Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 23 Februari 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Bulan Ramadan sering kali menjadi panggung bagi apa yang bisa disebut sebagai “kesalehan visual.” Masjid-masjid penuh, saf-saf rapat, dan gema takbir bersahutan. Pemandangan yang indah dan menyejukkan.
Namun di balik keriuhan ibadah itu, kadang tersembunyi penyakit hati yang halus tetapi mematikan: ar-riya’ (pamer ibadah) dan al-kibr (kesombongan). Kita merasa lebih suci karena dahi kita bersujud dalam rangkaian Tarawih, sementara mata kita memandang sinis mereka yang masih berpeluh keringat di jalanan, di pasar, atau di balik kemudi ketika azan Isya berkumandang.
Padahal, boleh jadi mereka sedang menunaikan ibadah dalam bentuk yang berbeda.
1. Hierarki Hukum: Jangan Menukar yang Wajib dengan yang Sunnah
Dalam kaidah fikih, skala prioritas adalah hal mendasar. Shalat Tarawih berstatus Sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Sementara memberi nafkah kepada keluarga adalah Fardhu ‘Ain (kewajiban individu).
Kewajiban tidak boleh dikalahkan oleh amalan sunnah.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Barangsiapa yang di waktu sore merasa lelah karena bekerja mencari nafkah yang halal, maka pada sore itu ia diampuni dosanya.”
(HR. Thabrani).
Seorang ayah yang melewatkan Tarawih karena harus lembur demi membelikan baju lebaran anaknya atau membayar kontrakan, sejatinya sedang menjalankan perintah Allah yang agung. Ia tidak sedang menjauhi Tuhan; ia sedang beribadah melalui tetesan keringatnya.
Tidak semua ibadah dilakukan di atas sajadah.
2. Bahaya “Sifat Kepangeranan” dalam Ibadah
Gus Baha pernah mengingatkan bahwa penyakit sebagian ahli ibadah adalah merasa memiliki “otoritas Tuhan” — seakan-akan berhak menentukan siapa yang layak masuk surga dan siapa yang tidak.
Padahal, inti ibadah adalah merunduk, bukan mendongak.
Allah SWT berfirman dalam QS. An-Najm ayat 32:
“…Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui siapa yang bertakwa.”
Ketika kita merasa lebih mulia dari mereka yang tidak Tarawih, justru di situlah kualitas ibadah kita mulai tergerus. Ibadah yang benar semestinya melahirkan empati, bukan penghakiman.
Kita adalah hamba yang sama-sama membutuhkan ampunan — bukan asisten Tuhan yang bertugas mengabsen dosa orang lain.
3. Esensi Islam adalah Kemudahan
Islam hadir bukan untuk menghimpit manusia dengan ritual yang kaku hingga melupakan sisi kemanusiaan.
Dalam sebuah hadis, seorang Arab Badui bertanya kepada Nabi ï·º tentang kewajiban dalam Islam. Setelah dijelaskan tentang shalat lima waktu dan puasa Ramadan, ia berkata:
“Demi Allah, aku tidak akan menambah dan tidak pula menguranginya.”
Mendengar itu, Rasulullah ï·º bersabda:
“Aflaha in shadaqa.”
(Ia akan beruntung jika ia jujur dengan ucapannya).
(HR. Bukhari & Muslim).
Nabi tidak memarahi orang itu karena tidak berniat melakukan amalan sunnah tambahan. Justru beliau menjamin keberuntungannya jika ia konsisten pada yang wajib.
Ini menjadi tamparan bagi kita yang sering menganggap mereka yang menjalankan “standar minimal” agama sebagai kurang saleh.
4. Menjadi Saleh Tanpa Merasa Paling Benar
Kesalehan sejati tidak diukur dari seberapa sering kita berada di barisan depan masjid, melainkan dari seberapa bersih hati kita terhadap sesama.
Jika Tarawih membuat kita merasa lebih tinggi dari tetangga yang bekerja kasar, mungkin kita perlu bertanya kembali: untuk siapa sujud itu kita lakukan?
Jangan sampai kita termasuk golongan yang “bangkrut” di akhirat — rajin shalat, tetapi membawa dosa berupa kebencian, kesombongan, dan penghinaan terhadap sesama Muslim yang sedang berjuang menyambung hidup.
Sebab pada akhirnya, Allah tidak hanya melihat jumlah rakaat kita, tetapi juga isi hati kita.


