Oleh: Ustadz Farid Okbah
Berani hidup berarti berani bertanggung jawab. Bagi orang beriman, hidup adalah ujian—dengan segala keruwetan dan kesenangan di dalamnya.
Allah SWT berfirman:
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiyaa: 35)
Allah juga mengingatkan tentang hakikat kehidupan dunia:
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan… Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”
(QS. Al-Hadid: 20)
Begitu pula firman-Nya:
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk… Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”
(QS. Ali ‘Imran: 14)
Delapan Perkara yang Sering Melalaikan
Allah SWT menyebutkan delapan hal yang kerap membuat manusia lalai, yaitu: orang tua, anak-anak, saudara, pasangan, keluarga, harta, perdagangan, dan tempat tinggal. Jika semua itu lebih dicintai daripada Allah, Rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka itu menjadi ancaman besar.
“Katakanlah, jika bapak-bapakmu, anak-anakmu… lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.”
(QS. At-Taubah: 24)
Rasulullah ï·º bersabda:
“Sesungguhnya dunia itu manis dan hijau (menakjubkan), dan Allah menjadikan kalian sebagai pengelolanya. Maka Allah akan melihat bagaimana kalian berbuat. Takutlah kalian terhadap fitnah dunia dan fitnah wanita…”
(HR. Muslim)
Karena itu, sejak Nabi Adam ‘alaihissalam dan ibunda Hawwa diturunkan ke bumi, Allah telah membekali manusia dengan petunjuk agar tidak tersesat di dunia dan celaka di akhirat.
Empat Tantangan Hidup Orang Beriman
1. Godaan Hawa Nafsu
Tantangan pertama berasal dari dalam diri manusia sendiri, yaitu hawa nafsu. Di sinilah pentingnya puasa sebagai sarana pengendalian diri—terutama terhadap nafsu makan, minum, syahwat, tidur, berbicara, harta, dan jabatan.
Allah berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya…?”
(QS. Al-Jaatsiyah: 23)
Hakikat orang yang terpenjara adalah mereka yang diperbudak oleh hawa nafsunya.
2. Godaan Setan dari Kalangan Manusia dan Jin
Jika berhasil menundukkan hawa nafsu, tantangan berikutnya adalah godaan setan, baik dari kalangan manusia maupun jin.
“Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin…”
(QS. Al-An’aam: 112)
Iblis bersumpah akan menggoda manusia dari segala arah:
“…pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, belakang, kanan, dan kiri mereka…”
(QS. Al-A’raaf: 16–17)
Cara menghadapi godaan manusia berbeda dengan godaan setan. Terhadap manusia, balaslah keburukan dengan kebaikan. Sedangkan terhadap setan, berlindunglah kepada Allah.
“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik… dan jika setan mengganggumu, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.”
(QS. Fushshilat: 34–36)
3. Godaan Pergaulan
Pergaulan hanya ada dua: pergaulan yang islami atau pergaulan yang jahili. Kelak, pertemanan yang tidak dilandasi takwa akan berubah menjadi permusuhan.
“Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa.”
(QS. Az-Zukhruf: 67)
Rasulullah ï·º bersabda:
“Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat siapa yang menjadi teman dekatnya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Jibril ‘alaihissalam pernah berpesan kepada Rasulullah ï·º:
“Hiduplah sesukamu, karena engkau akan mati. Cintailah siapa pun yang engkau kehendaki, karena engkau akan berpisah dengannya. Berbuatlah sesukamu, karena engkau akan mendapat balasannya…”
(HR. Ath-Thabrani)
Kemuliaan seorang mukmin terletak pada qiyamul lail dan ketidakbergantungannya kepada manusia.
4. Godaan Dunia
Tantangan terakhir adalah godaan dunia yang memperdaya.
“Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran: 185)
Dunia hanyalah sarana, bukan tujuan. Allah berfirman:
“Carilah negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qashash: 77)
Sahabat mulia Umar bin Khattab pernah berkata,
“Kalau bukan karena tiga hal, aku tidak ingin hidup: berada di medan jihad, qiyamul lail, dan menghadiri majelis ilmu.”
Betapa pentingnya jihad, shalat malam, dan ilmu dalam kehidupan seorang mukmin.
Penutup
Mari kita warnai hidup ini dengan ibadah kepada Allah SWT.
“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
(QS. Al-An’aam: 162)
Semoga Allah SWT memudahkan kita melewati setiap tantangan hidup dengan iman, kesabaran, dan ketakwaan.
Wallahu a’lam.


