Farid Achmad Okbah, M.A.
Pasukan ketika diperintah oleh komandannya akan bersikap, “Siaaap!” Apalagi kita sebagai hamba Allah ketika diperintah oleh Sang Khaliq, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sudah semestinya kita lebih siap dan taat.
Saat perintah puasa Ramadhan pertama kali diwajibkan pada tahun 2 Hijriah, Rasulullah ﷺ dan para sahabat sedang menghadapi Perang Badar. Namun, mereka tetap menjalankan perintah puasa. Allah pun memberikan kemenangan kepada mereka. Ini menjadi pelajaran bahwa seorang mukmin harus siap melaksanakan perintah Allah dalam kondisi apa pun.
Allah Ta’ala berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Puasa Ramadhan adalah kemuliaan luar biasa bagi kaum muslimin. Di dalamnya, Allah mendidik orang beriman untuk meningkatkan amal shalih, tunduk kepada-Nya, dan mengalahkan hawa nafsu yang sering menjadi belenggu terbesar dalam kehidupan.
Balasan puasa pun tanpa batas. Dalam hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ ... إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ...
“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Allah berfirman: Kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan makan, minum dan syahwatnya karena-Ku. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: ketika berbuka dan ketika bertemu Rabb-nya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Belum lagi nilai tambah lainnya di bulan Ramadhan: interaksi dengan Al-Qur’an, sedekah, qiyamullail, menuntut ilmu, i’tikaf, dakwah, dan berbagai amal kebajikan lainnya.
Ibnu Rajab dalam kitab Bughyatul Insan fi Wadhaif Ramadhan menyebutkan bahwa Ramadhan memiliki tiga keutamaan besar:
1. Keutamaan Tempat
Seperti keutamaan Masjidil Haram di Mekkah. Shalat di sana setara 100.000 kali dibandingkan tempat lain. Karena itu, banyak umat Islam berbondong-bondong ke Tanah Suci saat Ramadhan.
2. Keutamaan Waktu
Ramadhan adalah waktu yang mulia. Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ ...
“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Terlebih pada sepuluh malam terakhir, nilainya semakin meningkat.
3. Keutamaan Amal
Banyak amal di bulan Ramadhan memiliki keutamaan yang luar biasa. Misalnya, membaca surah Al-Ikhlas tiga kali seperti pahala khatam Al-Qur’an. Padahal untuk khatam Al-Qur’an membutuhkan waktu yang tidak sedikit.
Karena itu, Ramadhan adalah peluang emas untuk memperbanyak amal yang bernilai tinggi.
Sampai-sampai Malaikat Jibril mendoakan keburukan bagi orang yang menyia-nyiakan Ramadhan, dan Nabi ﷺ mengaminkannya:
رَغِمَ أَنْفُ عَبْدٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan, namun Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.”
(HR. Ahmad, shahih)
Lalu bagaimana respon umat terhadap Ramadhan? Setidaknya ada empat model:
- Muslim yang acuh, tidak mengindahkan puasa, baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Ini adalah kerugian besar, kecuali ia bertaubat.
- Muslim yang berpuasa tetapi tetap bermaksiat. Sah puasanya, namun pahala bisa hilang.
- Muslim yang berpuasa dan berusaha meninggalkan dosa, tetapi kurang maksimal dalam memperbanyak amal.
- Muslim yang berpuasa, menjaga diri dari dosa, dan mengoptimalkan hati, lisan, serta anggota tubuhnya dalam ketaatan. Inilah model paling sukses.
Semoga kita termasuk golongan terakhir. Ramadhan adalah kesempatan emas yang tidak selalu datang dua kali dalam kondisi yang sama.
Jangan sampai kita menyia-nyiakannya dan menyesal di kemudian hari.
Allahumma Amin.


