Farid Achmad Okbah, M.A.
Salah satu nilai terbesar bulan Ramadhan adalah karena di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia.
Allah SWT berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang benar dan yang batil. Karena itu, barang siapa di antara kamu menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa. Barang siapa sakit atau dalam perjalanan, maka gantilah pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Rasulullah ﷺ juga menegaskan bahwa puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat.
ﺍﻟﺼِّﻴَﺎﻡُ ﻭَﺍﻟْﻘُﺮْﺁﻥُ ﻳَﺸْﻔَﻌَﺎﻥِ ﻟِﻠْﻌَﺒْﺪِ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ...
“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Rabbku, aku telah menahannya dari makan dan syahwat pada siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat baginya. Al-Qur’an berkata: Aku telah menahannya dari tidur pada malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat baginya. Maka keduanya pun diizinkan memberi syafaat.”
(HR. Ahmad, shahih)
Interaksi dengan Al-Qur’an merupakan sebuah kemuliaan besar. Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala, terlebih di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Karena itu, orang yang berpuasa dengan nilai tinggi biasanya ditandai dengan kedekatannya kepada Al-Qur’an.
Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ada empat model manusia dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ...
“Perumpamaan seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an seperti buah utrujah yang harum baunya dan manis rasanya. Perumpamaan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an seperti kurma yang tidak berbau tetapi rasanya manis. Perumpamaan seorang munafik yang membaca Al-Qur’an seperti raihanah yang harum baunya tetapi pahit rasanya. Sedangkan munafik yang tidak membaca Al-Qur’an seperti buah hanzhalah yang tidak berbau dan rasanya pahit.”
(Muttafaq ‘alaihi)
Keutamaan membaca Al-Qur’an semakin besar jika dilakukan pada malam hari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَن قَرَأَ عَشْرَ آيَاتٍ فِي لَيلَةٍ لَم يُكتَبْ مِنَ الغَافِلِينَ
“Barang siapa membaca sepuluh ayat pada malam hari, maka ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai.”
(HR. Hakim, shahih)
Bahkan jika seseorang membaca seratus ayat pada malam hari, pahala yang didapat sangat besar.
مَنْ قرأَ بِمِائةِ آيةٍ في ليلةٍ كُتبَ لهُ قنوتُ ليلةٍ
“Barang siapa membaca seratus ayat pada suatu malam, maka dicatat baginya pahala seperti shalat sepanjang malam.”
(HR. Ahmad, shahih)
Jika ditambah dengan shalat tahajjud, maka nilai ibadahnya menjadi berlipat ganda.
Namun interaksi dengan Al-Qur’an tidak hanya sebatas membaca. Imam Hasan Al-Bashri, seorang ulama tabi’in, menjelaskan bahwa ada tiga golongan penghafal Al-Qur’an:
Pertama
Orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai alat mencari keuntungan dunia. Ia membawa Al-Qur’an dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapatkan upah.
Kedua
Orang yang menghafal huruf-hurufnya tetapi meninggalkan hukum-hukumnya. Ia menggunakan Al-Qur’an untuk mencari kedudukan dan bersikap sombong. Menurut Hasan Al-Bashri, golongan seperti ini sangat banyak, namun Allah tidak akan melimpahkan anugerah-Nya kepada mereka.
Ketiga
Orang yang membaca Al-Qur’an dan menjadikannya obat bagi penyakit hatinya. Ia mengurangi tidurnya di malam hari, matanya bengkak karena ibadah, hatinya penuh kekhusyukan, dan hidupnya dipenuhi ketenangan. Golongan seperti ini sangat sedikit, bahkan diibaratkan lebih langka daripada belerang merah. Namun karena merekalah Allah menurunkan rahmat-Nya, menurunkan pertolongan-Nya, dan menolak berbagai musibah.
Demikianlah kemuliaan orang yang dekat dengan Al-Qur’an. Allah menjanjikan kebahagiaan bagi mereka.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ...
“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Katakanlah, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”
(QS. Yunus: 57–58)
Sebaliknya, orang yang berpaling dari Al-Qur’an akan merasakan kesempitan hidup di dunia dan akhirat.
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا...
“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan pada hari kiamat Kami bangkitkan ia dalam keadaan buta.”
(QS. Thaha: 124–126)
Karena itu, Ramadhan adalah momentum terbaik untuk mempererat hubungan dengan Al-Qur’an, baik dengan membacanya, memahaminya, maupun mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Wallāhul Musta’ān.


