Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 21 April 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Setiap 21 April, kita ramai mengenakan kebaya dan sanggul. Namun, Kartini lebih dari sekadar dress code. Di balik hidupnya yang hanya 25 tahun, tersimpan pemikiran yang hingga kini masih sangat relevan.
Misi Kartini: Mencerdaskan Perempuan, Bukan Menyaingi Laki-laki
Banyak yang salah kaprah. Kartini tidak pernah ingin perempuan menjadi saingan laki-laki. Dalam suratnya kepada Prof. Anton dan Ny. Abendanon tahun 1902, ia menulis bahwa pendidikan bagi perempuan bertujuan agar “wanita lebih cakap melakukan kewajibannya… menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”
Artinya, emansipasi versi Kartini adalah mengangkat derajat perempuan melalui ilmu—agar menjadi ibu yang cerdas dan pendidik utama dalam keluarga. Sederhana, namun sangat mendalam.
Titik Balik: Memahami Islam Lewat Tafsir Al-Fatihah
Bagian ini jarang dibahas. Sejak kecil Kartini rajin mengaji, namun ia mengaku belum memahami maknanya sehingga merasa jenuh.
Semua berubah ketika ia mengikuti pengajian Kyai Sholeh Darat di Demak. Saat mendengarkan tafsir Surat Al-Fatihah, Kartini merasakan pencerahan. Dari situ, ia mulai memahami isi Al-Qur’an dan merasa sangat takjub.
Ia kemudian meminta sesuatu yang saat itu dilarang oleh pemerintah kolonial: penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Permintaan tersebut dikabulkan. Kyai Sholeh Darat bahkan menghadiahkan terjemahan 13 juz (dari Al-Fatihah hingga Surat Ibrahim) sebagai hadiah pernikahan.
Sejak saat itu, cara pandang Kartini berubah. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon, ia menegaskan: “Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa atau orang Jawa kebarat-baratan.”
Ia ingin maju tanpa kehilangan jati diri.
Tujuan Hidup Kartini: Membela Islam dan Menjadi “Hamba Allah”
Kartini juga memiliki tekad untuk memperbaiki citra Islam yang saat itu sering disalahpahami. Puncak cita-citanya adalah menjadi seorang “Hamba Allah”—muslimah yang bertakwa dan berakhlak.
Warisan Kartini untuk Kita
Hari Kartini bukan sekadar seremonial. Ada tiga warisan penting yang perlu kita jaga:
- Berani berpikir kritis – Kartini berani bertanya dan mencari kebenaran.
- Menuntut ilmu hingga paham – tidak sekadar membaca, tapi memahami secara mendalam.
- Maju tanpa kehilangan akar – modern boleh, tapi iman dan budaya tetap dijaga.
Refleksi
Tugas kita hari ini adalah memastikan seluruh anak perempuan Indonesia mendapatkan akses pendidikan setinggi-tingginya. Dari sana akan lahir Kartini-Kartini masa kini: cerdas, beradab, dan kuat imannya.
Al-Fatihah untuk Ibu Kartini.


