Oleh : Dr. Ir. Narmodo, M. Ag., Ketua PD Muhammadiyah Jakarta Barat, Akademisi dan Da'i
Yang merusak umat bukan hanya kezaliman, tapi juga diamnya saudara yang seharusnya peduli.
Ada satu prinsip mendasar dalam Islam yang begitu sederhana, tetapi justru sering diabaikan dalam praktik kehidupan: seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ini bukan sekadar slogan moral, melainkan fondasi sosial yang menentukan kuat atau rapuhnya umat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak membiarkannya (dalam kesulitan).”
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim)
Hadis ini tampak singkat, tetapi jika dikupas secara mendalam, ia memuat dua pilar utama: tidak menzalimi (lā yaẓlimuhu) dan tidak membiarkan (lā yakhذuluhu). Dua hal ini adalah ujian nyata, bukan sekadar teori.
Tidak Menzalimi: Bukan Hanya Soal Kekerasan
Kezaliman dalam Islam tidak selalu berbentuk tindakan fisik. Dalam konteks hari ini, kezaliman bisa hadir dalam bentuk yang jauh lebih halus—bahkan dianggap “normal”.
Menjatuhkan reputasi orang lain di media sosial, menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, memfitnah dengan narasi yang dipoles, hingga sikap diam ketika melihat ketidakadilan—semua itu termasuk bentuk kezaliman.
Lebih jauh lagi, kezaliman juga bisa hadir dalam bentuk struktural: ketika seseorang memiliki kekuasaan atau pengaruh, tetapi menggunakannya untuk kepentingan pribadi, mengabaikan amanah, atau mempersempit ruang orang lain untuk berkembang.
Padahal Islam menempatkan keadilan sebagai prinsip utama. Ketika seorang Muslim menyakiti Muslim lainnya—baik dengan lisan, tulisan, atau kebijakan—maka sesungguhnya ia telah meruntuhkan makna persaudaraan itu sendiri.
Tidak Membiarkan: Ujian Kepekaan Sosial
Bagian kedua dari hadis ini justru sering lebih berat: tidak membiarkan saudaranya dalam kesulitan.
Di sinilah letak ujian keimanan yang sesungguhnya. Banyak orang tidak secara langsung menzalimi, tetapi juga tidak peduli. Mereka memilih aman, diam, dan tidak terlibat.
Padahal dalam Islam, sikap pasif terhadap penderitaan orang lain bukanlah netral—ia adalah bentuk kegagalan moral.
Dalam konteks kekinian, “membiarkan” bisa berarti:
1. Tidak peduli terhadap kemiskinan di sekitar
2. Menutup mata terhadap ketidakadilan sosial
3. Tidak membantu ketika mampu membantu
4. Membiarkan fitnah beredar tanpa klarifikasi
Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan umat yang individualistis. Islam adalah agama yang menuntut keterlibatan sosial, empati, dan keberpihakan pada kebenaran.
Persaudaraan yang Bukan Formalitas
Sering kali, kata “ukhuwah” hanya menjadi jargon—indah di forum, tetapi kosong dalam praktik. Padahal persaudaraan dalam Islam bukan sekadar hubungan emosional, tetapi komitmen moral.
Persaudaraan itu menuntut:
1. Kejujuran, bukan kepura-puraan
2. Kepedulian, bukan sekadar simpati
3. Keberanian membela yang benar, bukan diam demi kenyamanan
Dalam kehidupan berbangsa, nilai ini menjadi sangat penting. Ketika umat Islam terpecah oleh kepentingan politik, ekonomi, atau ego kelompok, maka hadis ini seharusnya menjadi cermin: apakah kita masih benar-benar bersaudara?
Relevansi di Era Digital dan Polarisasi
Di era digital, tantangan ukhuwah justru semakin kompleks. Informasi bergerak cepat, emosi mudah tersulut, dan perbedaan pendapat sering berubah menjadi permusuhan.
Di sinilah hadis ini menjadi sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa:
1. Berbeda bukan alasan untuk saling menzalimi
2. Tidak sepakat bukan alasan untuk saling menjatuhkan
3. Kritik tidak boleh berubah menjadi kebencian
Persaudaraan tidak berarti meniadakan perbedaan, tetapi mengelolanya dengan adab.
Penutup: Menghidupkan Kembali Makna Persaudaraan
Menjadi Muslim bukan hanya soal ibadah individual, tetapi juga tanggung jawab sosial. Hadis ini mengajarkan bahwa iman tidak lengkap jika masih ada kezaliman dan ketidakpedulian di sekitar kita.
Maka pertanyaannya bukan lagi: apakah kita sudah tidak menzalimi?
Tetapi lebih dalam: apakah kita sudah cukup peduli untuk tidak membiarkan?
Jika umat ini ingin kuat, maka yang harus dibangun bukan hanya jumlah, tetapi kualitas persaudaraan. Sebab pada akhirnya, kekuatan umat tidak ditentukan oleh banyaknya orang, tetapi oleh kokohnya ikatan di antara mereka. Dan ikatan itu dimulai dari satu hal sederhana tidak menzalimi, dan tidak membiarkan. (AZN)


