Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 20 April 2026
Oleh: Ibrahim Abubakar Al-Attas
Dalam riuh rendah dunia yang cepat, banyak yang sering terjebak dalam arus fast-paced relationship di mana hubungan dianggap sebagai aksesori yang bisa diganti kapan saja saat merasa bosan atau tidak lagi "sefrekuensi". Namun, dalam bingkai Islam, pernikahan bukanlah sekadar status sosial atau pemenuhan hasrat, melainkan sebuah mîtsâqan ghalîzhâ (perjanjian yang sangat kuat). Bukan hanya perjanjian, namun pernikahan juga harus menjadi sarana untuk menjaga diri dari pelanggaran Agama, bukan sekadar pelampiasan syahwat yang endingnya menyebabkan kita baru tersadar akan berharganya pasangan ketika kursi di sebelahnya telah kosong dan sunyi yang tersisa.
Al-Qur’an secara eksplisit menyebutkan hakikat pasangan dalam surah Ar-Rum ayat 21: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang." Ayat ini menekankan bahwa tujuan utama pernikahan adalah sakinah (ketenteraman). Sayangnya, kita sering lupa bahwa ketenteraman tidak datang dengan sendirinya; ia harus dirawat melalui investasi emosional setiap hari.
Dalam perspektif ulama klasik, pernikahan adalah ibadah yang menuntut kesabaran ekstra. Imam Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin memberikan nasihat mendalam tentang pentingnya menjaga hubungan:
(Keharmonisan antara suami-istri tidak akan sempurna kecuali dengan akhlak yang baik dan pengorbanan demi orang lain).
Bagi anak zaman now, istilah "pengorbanan" mungkin terdengar berat. Namun, dalam konteks kekinian, ini berarti menurunkan ego saat berdebat, memilih untuk mendengar daripada sekadar ingin menang, dan memvalidasi perasaan pasangan meski kita sedang lelah.
Rasulullah SAW memberikan standar tertinggi dalam perlakuan suami terhadap istrinya. Dalam sebuah hadis riwayat Tirmidzi, beliau bersabda: "Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya."
Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW menyatakan :
Sebaik - baiknya kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan akulah yang paling baik kepada keluarga ku.(H.R At-Turmuzi)
Disamping itu Rasulullah SAW juga mengajarkan adab yang luhur kepada para istri dalam memuliakan suaminya, dimana Rasulullah SAW bersabda : "kalau ada titah kepada ku yang memperbolehkan manusia sujud kepada manusia lainnya, maka akan ku perintahkan seorang istri sujud kepada suaminya".(H.R At-Turmuzi & Ibnu Majah)
Pada kesempatan yang lain Rasulullah SAW didatangi oleh Zainab R.A, kemudian Aisyah R.A menyampaikan kepada Rasulullah SAW : wahai Rasulullah, ada Zainab datang kepada mu. Rasulullah SAW bertanya : Zainab siapa? Aisyah R.A menjawab : Zainab istri Ibnu Mas'ud. Kemudian Zainab dipersilahkan, dan dia mulai bertanya : wahai Rasulullah, engkau memerintahkan kami para wanita untuk bersedekah, namun suami ku(Ibnu Mas'ud) menyatakan bahwa ia dan anak - anak ku lebih berhak mendapatkan sedekah dari pada orang lain, bagaimana pendapat mu? Rasulullah SAW menjawab : pernyataan Ibnu Mas'ud benar dan tidak salah, suami dan anak - anak mu lebih berhak mendapatkan sedekah dari mu ketimbang kamu bersedekah kepada orang lain.
Seluruh riwayat diatas adalah alarm untuk kita bahwa religiusitas seseorang bukan hanya diukur dari seberapa lama ia shalat malam, melainkan dari bagaimana ia memperlakukan orang yang tidur di sampingnya.
Kehilangan pasangan bukan hanya soal kematian, tetapi soal "kehilangan sosok" akibat ketidakhadiran kita meski raga kita ada di sana. Ghosting atau mengabaikan pasangan di dalam rumah sendiri adalah bentuk perlahan dari kehancuran hubungan. Islam mengajarkan mu'asyarah bil ma'ruf (pergaulan yang baik), yang mencakup perhatian, kasih sayang, dan kehadiran fisik maupun emosional yang utuh.
Seringkali kita merasa pasangan akan selalu ada ("they will always be there for me"). Ini adalah bias kognitif yang berbahaya. Padahal, waktu adalah aset yang tidak bisa di-refund. Ketika kita lalai memberikan apresiasi atau perhatian, perlahan-lahan jarak akan terbentuk. Penyesalan selalu datang di akhir, saat kita sadar bahwa kita telah membiarkan "rumah" kita roboh hanya karena ego yang tidak penting.
Untuk menjaga rumah tangga tetap kekal, kita perlu menerapkan prinsip tadzakkur. Ingatlah alasan awal mengapa Allah menyatukan kalian. Ingatlah perjuangan untuk sampai ke titik ini. Jangan menunggu momen perpisahan untuk mengucapkan "terima kasih" atau "maaf". Kehilangan pasangan bukan hanya tentang hilangnya seseorang, tapi hilangnya satu-satunya orang yang paling mengenal sisi gelap dan terang kita.
Sebagai penutup, mari kita renungkan nasihat tentang hubungan suami-istri:
(Cinta bukanlah kata-kata yang diucapkan, melainkan tindakan yang disadari dan perasaan yang dihargai).
Jangan sampai kita menjadi manusia yang baru bisa menghargai keberadaan pasangan setelah ia tidak lagi bisa kita temukan di balik pintu rumah. Investasikan kasih sayang, bukan penyesalan.
Quotes
"Jangan tunggu pasanganmu pergi baru kamu berbenah. Karena kasih sayang bukan tentang siapa yang paling lama bertahan, tapi siapa yang paling konsisten memberi kenyamanan."



pengajiann sangat luar bisaaa
BalasHapuspengajiann sangat luar bisaaa
BalasHapus