Oleh: Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Barat, Akademisi, Da’i, dan Wirausahawan
Ketika dunia bergerak dengan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan persaingan global yang brutal, generasi muda tidak cukup hanya bergerak biasa. Mereka harus melompat dalam cara berpikir, belajar, dan menghadapi masa depan.
Musyawarah Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) DKI Jakarta yang digelar di Ruang Ali Sadikin, Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Jumat (9/5/2026), menjadi momentum penting untuk membaca arah masa depan generasi muda Muhammadiyah di tengah perubahan dunia yang berlangsung sangat cepat.
Kegiatan tersebut dihadiri Pemerintah Kota Jakarta Barat yang diwakili KH. Abdurrahman, Ketua PWM DKI Jakarta yang diwakili Prof. Bunyamin, M.Pd., Ketua Umum PP IPM Deny Rahmat Muharram, Ketua PW IPM DKI Jakarta Muhammad Salman, jajaran pimpinan Muhammadiyah, kader, serta pelajar Muhammadiyah dari berbagai wilayah di DKI Jakarta.
Dalam sambutannya, Ketua PDM Jakarta Barat, Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag., menyampaikan pesan tajam sekaligus menggugah kepada generasi muda Muhammadiyah agar tidak terlena menghadapi perubahan zaman.
Menurutnya, dunia saat ini sedang memasuki babak baru yang dipenuhi persaingan global, revolusi teknologi, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan otomatisasi industri yang bergerak sangat cepat.
Persaingan Dunia Tidak Lagi Biasa
Narmodo menjelaskan bahwa perubahan global hari ini bukan sekadar perubahan teknologi, tetapi perubahan besar dalam struktur kehidupan manusia, ekonomi, pendidikan, hingga dunia kerja.
Banyak pekerjaan yang sebelumnya mengandalkan tenaga manusia kini mulai tergantikan oleh mesin, robot, dan sistem berbasis AI yang bekerja lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien.
Karena itu, menurutnya, generasi muda Muhammadiyah tidak boleh menghadapi masa depan dengan pola pikir lama.
“Kalau kita masih berjalan biasa sementara dunia sudah melompat, maka kita akan tertinggal. Persaingan sekarang bukan lagi antar kampung atau antar kota, tetapi antar bangsa dan antar kemampuan manusia menghadapi perubahan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa tantangan terbesar generasi muda ke depan bukan sekadar mencari pekerjaan, tetapi bagaimana mampu bertahan dan memenangkan persaingan global yang semakin kompetitif.
Menurutnya, generasi muda saat ini tidak cukup hanya memiliki ijazah, tetapi juga harus memiliki:
- kemampuan berpikir kritis,
- kreativitas,
- inovasi,
- serta kemampuan beradaptasi dengan perubahan yang cepat.
Pendidikan Tidak Boleh Hanya Menghafal
Dalam pidatonya, Narmodo juga menyoroti sistem pendidikan yang menurutnya masih terlalu menitikberatkan pada hafalan dibanding kemampuan berpikir dan memecahkan masalah.
Ia mengatakan bahwa dunia masa depan membutuhkan manusia yang:
- mampu membaca peluang,
- menciptakan inovasi,
- bekerja lintas disiplin ilmu,
- serta memiliki kemampuan komunikasi dan kepemimpinan.
“Ke depan, orang yang hanya sekadar menghafal akan mudah dikalahkan oleh mesin. Tetapi manusia yang mampu berpikir kritis, kreatif, memiliki empati, kepemimpinan, dan keberanian mengambil keputusan akan tetap dibutuhkan,” ujarnya.
Karena itu, ia mendorong Muhammadiyah, termasuk IPM, untuk membangun pola pembinaan kader yang lebih progresif dan relevan dengan tantangan zaman.
Menurutnya, pendidikan Muhammadiyah harus mampu melahirkan generasi yang:
- saleh secara spiritual,
- unggul dalam ilmu pengetahuan,
- menguasai teknologi,
- serta kuat dalam kepemimpinan sosial.
Ia juga mengajak pelajar Muhammadiyah agar membiasakan diri membaca perkembangan dunia, menguasai teknologi digital, melatih kemampuan komunikasi, dan memiliki keberanian untuk berpikir berbeda.
Muhammadiyah Harus Menjadi Pelopor Perubahan
Narmodo mengingatkan bahwa Muhammadiyah sejak awal berdiri merupakan gerakan tajdid atau gerakan pembaruan. Karena itu, kader Muhammadiyah tidak boleh memiliki mentalitas nyaman dan takut menghadapi perubahan.
Menurutnya, sejarah Muhammadiyah dibangun oleh keberanian melompat melampaui zamannya.
“Kalau dahulu Muhammadiyah berani melompat dalam dunia pendidikan, kesehatan, dan pembaruan Islam, maka generasi mudanya hari ini juga harus berani melompat menghadapi dunia baru,” katanya.
Ia menilai IPM harus menjadi ruang lahirnya pemimpin masa depan yang:
- kuat secara ideologi,
- modern menghadapi teknologi,
- luas cara berpikirnya,
- namun tetap kokoh dalam akhlak dan spiritualitas.
Menurutnya, kemajuan tanpa moral akan melahirkan kerusakan, sedangkan moral tanpa kemampuan akan membuat umat tertinggal.
Karena itu, generasi muda Muhammadiyah harus mampu memadukan:
- iman,
- ilmu,
- teknologi,
- kreativitas,
- dan keberanian, dalam satu gerakan nyata untuk masa depan bangsa.
Musyawarah Wilayah IPM DKI Jakarta ini diharapkan bukan hanya menjadi agenda organisasi tahunan, tetapi juga menjadi titik kebangkitan kesadaran baru bahwa masa depan tidak akan menunggu siapa pun.
Dunia sedang berubah sangat cepat. Dan di tengah perubahan itu, generasi Muhammadiyah dituntut bukan sekadar berjalan mengikuti zaman, tetapi melompat untuk memimpin perubahan.


