Jakarta Barat, infoDKJ.com | Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat menyelenggarakan Shalat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1447 H yang bertepatan dengan Rabu, 27 Mei 2026, di Masjid Muhammadiyah Nurul Hikmah, Jalan Tanjung Duren Selatan III No. 4, Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut dihadiri oleh para anggota pimpinan, kader, simpatisan Muhammadiyah, serta masyarakat sekitar. Tidak kurang dari 500 jamaah memadati area masjid dan halaman sekitarnya sejak pagi hari.
Bertindak sebagai khatib adalah Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat, Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag., sementara imam Shalat Idul Adha dipimpin oleh Ustadz Yazid Rizal, S.Sos. Kehadiran para pimpinan Muhammadiyah tingkat daerah, cabang, ranting, serta kader-kader muda Muhammadiyah semakin menambah semarak pelaksanaan ibadah yang menjadi salah satu syiar Islam terbesar tersebut.
Dalam khutbahnya yang mengangkat tema “Idul Adha: Ketika Manusia Sulit Mengorbankan Ego”, Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag. mengajak jamaah untuk memahami bahwa hakikat kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan, tetapi lebih jauh merupakan proses penyembelihan hawa nafsu, kesombongan, dan ego yang sering kali menjadi sumber berbagai persoalan dalam kehidupan.
Menurutnya, banyak konflik dalam keluarga, organisasi, masyarakat, bahkan bangsa, berawal dari ketidakmampuan manusia mengendalikan ego. Seseorang ingin menang sendiri, merasa paling benar, enggan menerima kritik, dan sulit mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Padahal, semangat yang diajarkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah semangat kepatuhan, keikhlasan, dan pengorbanan demi menjalankan perintah Allah SWT.
“Sering kali yang paling sulit dikorbankan bukanlah harta, melainkan ego. Padahal kemajuan organisasi, persatuan umat, dan keharmonisan masyarakat hanya dapat terwujud apabila setiap orang bersedia menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan dirinya sendiri,” ujar Narmodo dalam khutbahnya.
Ia menegaskan bahwa keteladanan Nabi Ibrahim AS menunjukkan bagaimana seorang hamba mampu meletakkan perintah Allah di atas segala-galanya. Sementara Nabi Ismail AS memberikan pelajaran tentang kepatuhan, keikhlasan, dan kesediaan berkorban demi meraih ridha Allah SWT. Nilai-nilai inilah yang harus dihidupkan kembali dalam kehidupan umat Islam saat ini.
Dalam kesempatan tersebut, Narmodo juga menyampaikan apresiasi terhadap keberadaan Masjid Muhammadiyah Nurul Hikmah yang selama puluhan tahun tetap berdiri kokoh, aktif, dan menjalankan fungsinya sebagai pusat ibadah, dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat. Menurutnya, masjid ini memiliki nilai historis dan sosial yang sangat penting karena berada di lingkungan perumahan yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.
Bahkan, Ketua RT setempat yang rumahnya berhadapan langsung dengan pintu masuk masjid hanya berjarak sekitar lima meter dari kompleks masjid. Namun hingga hari ini hubungan sosial, komunikasi, dan kehidupan bertetangga tetap terjalin dengan baik, harmonis, dan saling menghormati.
Menurut Narmodo, kondisi tersebut menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah mampu menghadirkan Islam yang berkemajuan, ramah, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan agama maupun latar belakang sosial.
“Keberadaan Masjid Muhammadiyah Nurul Hikmah di tengah lingkungan yang mayoritas non-Muslim adalah bukti bahwa Muhammadiyah tidak hanya mampu berdiri kokoh di tengah kelompoknya sendiri, tetapi juga mampu hidup berdampingan, berinteraksi, dan memberikan manfaat di tengah masyarakat yang beragam. Inilah praktik Islam rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya,” tegasnya.
Lebih lanjut ia menambahkan bahwa toleransi bukan berarti mencampuradukkan akidah, melainkan menghormati hak-hak sesama warga negara dan sesama manusia untuk hidup berdampingan secara damai. Karena itu, keberadaan Masjid Muhammadiyah Nurul Hikmah selama ini sekaligus menjadi simbol keberhasilan membangun harmoni sosial, persaudaraan kemanusiaan, dan penghormatan terhadap perbedaan.
Usai pelaksanaan Shalat Idul Adha, kegiatan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban yang dipusatkan di lingkungan Masjid Muhammadiyah Nurul Hikmah. Pada tahun ini panitia berhasil menghimpun dan menyembelih 7 ekor sapi dan 7 ekor kambing yang berasal dari para pekurban, warga Muhammadiyah, dan para dermawan yang mempercayakan pelaksanaan kurbannya kepada panitia.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua PDM Jakarta Barat, Dr. Ir. H. Narmodo, M.Ag., secara simbolis menyerahkan seekor sapi kurban kepada Ketua DKM Masjid Muhammadiyah Nurul Hikmah, Warsito, untuk selanjutnya diproses dan didistribusikan kepada masyarakat yang berhak menerima. Penyerahan tersebut menjadi simbol semangat berbagi, kepedulian sosial, dan penguatan ukhuwah yang menjadi bagian dari dakwah Muhammadiyah.
Warsito menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada para pekurban serta seluruh panitia yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan Idul Adha tahun ini. Ia berharap daging kurban yang dibagikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan semakin mempererat hubungan persaudaraan di lingkungan sekitar masjid.
Suasana gotong royong tampak mewarnai seluruh rangkaian kegiatan. Para kader Muhammadiyah, pemuda, ibu-ibu, dan relawan bahu-membahu melaksanakan proses penyembelihan, pengemasan, hingga distribusi daging kurban kepada masyarakat. Semangat kebersamaan, keikhlasan, dan pelayanan kepada umat terlihat nyata dalam setiap tahapan kegiatan.
Melalui pelaksanaan Shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban di Masjid Muhammadiyah Nurul Hikmah ini, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jakarta Barat berharap masyarakat dapat menangkap pesan utama Idul Adha, yaitu pentingnya menundukkan ego demi kemaslahatan yang lebih besar. Sebab, sebagaimana disampaikan dalam khutbah Idul Adha tahun ini, kurban terbesar yang sering kali paling berat dilakukan manusia bukanlah mengorbankan harta, melainkan mengorbankan ego demi ridha Allah SWT.
Di tengah masyarakat yang semakin majemuk, Masjid Muhammadiyah Nurul Hikmah telah menunjukkan bahwa keteguhan dalam beragama dapat berjalan seiring dengan penghormatan terhadap perbedaan. Masjid ini bukan hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol bahwa dakwah yang dilakukan dengan hikmah, keteladanan, dan kemanfaatan akan selalu menemukan tempat di hati masyarakat. Inilah wajah Muhammadiyah yang sesungguhnya: teguh dalam prinsip, luas dalam persaudaraan, dan hadir membawa manfaat bagi semua. (AZN)


