Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 17 Mei 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Dalam hidup, ada masa ketika seseorang merasa seperti sedang berlari di antara dua bukit: lelah, bingung, dan belum menemukan jalan keluar. Berbagai usaha telah dilakukan, tetapi hasil belum juga tampak. Masalah ekonomi datang silih berganti, rumah tangga diuji, hati dipenuhi kegelisahan, sementara harapan terasa jauh dari genggaman.
Keadaan seperti ini mengingatkan kita pada perjuangan Siti Hajar, seorang ibu yang ditinggalkan di lembah tandus bersama bayinya, Nabi Ismail AS. Tidak ada sumber air, tidak ada manusia, dan tidak ada jaminan keselamatan. Namun, ia tidak menyerah pada keadaan. Dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT, ia berlari dari Bukit Shafa ke Marwah berkali-kali demi mencari pertolongan.
Perjalanan itu bukan sekadar lari fisik, melainkan simbol ikhtiar, kesabaran, dan tawakal. Siti Hajar mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti diam tanpa usaha. Tawakal adalah tetap bergerak, tetap berikhtiar, sambil menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah SWT.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Dalam ayat lain, Allah SWT juga berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)
Siti Hajar tidak langsung menemukan air pada langkah pertama. Ia terus berlari dalam harapan dan keyakinan, hingga akhirnya Allah menghadirkan mukjizat air zamzam yang mengalir tanpa henti. Dari kisah ini kita belajar bahwa pertolongan Allah sering datang setelah kesabaran dan usaha diuji.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar maka itu baik baginya.”
(HR. Muslim)
Hadits ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak diukur dari seberapa sedikit masalah yang ia hadapi, tetapi dari bagaimana ia tetap bersandar kepada Allah di tengah ujian.
Allah SWT juga berfirman:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Sering kali manusia merasa lelah karena hasil belum terlihat. Padahal, bisa jadi Allah sedang mempersiapkan “zamzam” terbaik dalam hidupnya — pertolongan yang datang pada waktu paling tepat. Apa yang hari ini terasa berat, mungkin justru sedang membentuk kekuatan hati, kedewasaan iman, dan keyakinan yang lebih dalam kepada Allah SWT.
Karena itu, ketika hidup terasa seperti berlari tanpa akhir, jangan berhenti melangkah. Tetaplah berusaha, tetap berdoa, dan tetap percaya kepada Allah. Sebab, tidak ada satu pun ikhtiar yang dilakukan karena Allah yang akan sia-sia.
Sebagaimana Siti Hajar akhirnya menemukan zamzam setelah perjuangan panjangnya, demikian pula seorang mukmin. Kesabaran dan tawakal yang dijaga dengan ikhlas akan mengantarkan pada pertolongan Allah SWT yang datang tepat pada waktunya.


