Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 13 Mei 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Setiap manusia yang diberi umur panjang oleh Allah SWT akan melewati satu fase kehidupan yang dalam Al-Qur’an disebut ardzalil ‘umur — usia paling lemah dan rentan. Pada fase ini, manusia tidak hanya mengalami penurunan fisik, tetapi juga perubahan mental dan emosional.
Masa tua bukan sekadar tentang rambut memutih atau tubuh melemah, melainkan tentang kembalinya manusia pada kondisi yang menyerupai masa kanak-kanak: mudah tersinggung, ingin diperhatikan, sensitif, dan terkadang ingin dituruti.
1. Fase “Kembali seperti Anak-anak” dalam Al-Qur’an
Allah SWT menjelaskan bahwa setelah mencapai puncak kekuatan, manusia perlahan akan dikembalikan kepada keadaan lemah.
QS. An-Nahl: 70
“Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling tua (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya…”
QS. Yasin: 68
“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya) (kembali lemah seperti bayi). Maka apakah mereka tidak memikirkan?”
Secara psikologis, kondisi ini membuat sebagian orang tua menjadi lebih sensitif, mudah kecewa, ingin dihargai, dan terkadang keras mempertahankan pendapatnya. Hal ini bukan semata-mata sifat buruk, tetapi bagian dari proses kehidupan yang telah Allah tetapkan.
Di sinilah kesabaran keluarga dan lingkungan diuji.
2. Ketika Usia Menjadi “Otoritas”
Tidak sedikit orang tua merasa bahwa pengalaman hidup yang panjang membuat mereka paling memahami banyak hal. Nasihat sulit diterima, kritik dianggap melawan, bahkan terkadang ingin selalu dihormati dan dituruti.
Rasulullah SAW telah menggambarkan kondisi ini dalam sebuah hadits:
HR. Bukhari
“Hati orang tua tetap merasa muda dalam dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.”
Meski tubuh melemah, keinginan untuk tetap dihargai, dianggap penting, dan diakui sering kali justru semakin kuat. Dalam banyak kasus, sikap keras kepala muncul karena adanya rasa takut kehilangan peran dan kendali dalam hidupnya.
3. Adab Menghadapi Orang Tua di Masa Senja
Islam tidak hanya menjelaskan fenomena masa tua, tetapi juga mengajarkan bagaimana anak dan generasi muda harus bersikap.
A. Jangan Sampai Mengucapkan “Ah”
Ketika orang tua mulai sering mengulang perkataan, mudah marah, atau banyak menuntut perhatian, Allah tetap melarang anak membentak, apalagi meremehkan mereka.
QS. Al-Isra: 23
“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”
Satu kata kasar yang keluar dari mulut anak bisa melukai hati orang tua lebih dalam daripada yang kita bayangkan.
B. Memuliakan Orang Tua adalah Bentuk Mengagungkan Allah
Rasulullah SAW mengajarkan bahwa menghormati orang tua bukan sekadar budaya, tetapi bagian dari ibadah.
HR. Abu Dawud
“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah memuliakan orang tua yang muslim…”
Kadang yang dibutuhkan orang tua bukan harta, melainkan perhatian, ditemani berbicara, didengarkan, dan dihargai keberadaannya.
C. Doa agar Dijauhkan dari Pikun yang Berat
Bahkan Rasulullah SAW pun berdoa agar tidak dikembalikan pada usia yang sangat lemah hingga kehilangan kemampuan berpikir.
Doa Rasulullah SAW
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat bakhil, aku berlindung kepada-Mu dari sifat penakut, dan aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan kepada usia yang paling hina.” (HR. Bukhari)
Penutup
Masa tua adalah sunnatullah yang pasti datang bagi siapa pun yang dipanjangkan usianya.
Bagi orang tua, itu adalah ujian untuk tetap rendah hati di tengah keterbatasan.
Bagi anak-anak dan keluarga, itu adalah ujian kesabaran untuk membalas kasih sayang mereka dahulu — ketika kita kecil, lemah, dan selalu merepotkan mereka.
Hari ini mungkin mereka sering mengulang cerita yang sama, mudah marah, atau ingin diperhatikan terus-menerus. Namun dahulu, merekalah yang sabar menghadapi tangisan, rengekan, dan kenakalan kita tanpa lelah.
Maka perlakukanlah mereka dengan kelembutan, perhatian, dan kesabaran tanpa batas.
Karena sesungguhnya, mereka sedang berada di fase senja kehidupan sebelum kembali menghadap Allah SWT.


