Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 24 Juni 2026
Generasi Z, yang terdiri dari orang-orang yang lahir antara tahun 1997 dan 2012, dikenal memiliki perspektif yang berbeda dari generasi sebelumnya tentang hubungan pernikahan. Meskipun banyak yang ingin hidup berkeluarga, ada sebagian yang merasa ragu atau takut untuk menikah.
Dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Hukum, Afrina dan Arisman menjelaskan fenomena "Married is Scary", yang mencerminkan persepsi ketakutan terhadap pernikahan yang semakin meningkat dalam masyarakat modern.
Salah satu penyebabnya adalah maraknya berita tentang konflik rumah tangga dan tingginya angka perceraian yang dipublikasikan di media sosial maupun yang terjadi di lingkungan sekitar. Hal ini membuat sebagian Gen Z menjadi lebih berhati-hati dalam memandang pernikahan dan mempertanyakan kemampuan mereka untuk menjalani hubungan jangka panjang yang langgeng.
Faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan penting. Biaya hidup yang terus meningkat, ketidakpastian pekerjaan, serta tuntutan kebutuhan finansial setelah menikah membuat banyak anak muda memilih menunda pernikahan.
Selain faktor sosial dan ekonomi, pandangan Gen Z terhadap pernikahan juga sangat dipengaruhi oleh pengalaman keluarga mereka. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang mengalami konflik atau perceraian cenderung lebih berhati-hati terhadap komitmen. Mereka tidak ingin mengulangi pola hubungan yang sama. Dalam konteks ini, rasa takut bukan selalu berarti menolak pernikahan, melainkan upaya untuk menghindari kesalahan yang dianggap dapat berdampak besar pada kehidupan mereka.
Di sisi lain, sikap yang lebih berhati-hati ini juga dapat dipandang sebagai bentuk kemajuan. Banyak Gen Z kini melihat pernikahan sebagai komitmen jangka panjang yang membutuhkan kesiapan emosional, kemampuan komunikasi, stabilitas ekonomi, dan kecocokan nilai hidup. Berbeda dengan sebagian generasi sebelumnya yang menganggap pernikahan sebagai pencapaian yang harus segera diraih, Gen Z lebih menekankan pentingnya kesiapan sebelum melangkah ke jenjang tersebut.
Kesadaran ini menunjukkan adanya perubahan pola pikir, dari “menikah cepat” menjadi “menikah dengan kesiapan”.
Selain itu, Gen Z cenderung memprioritaskan pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Mereka ingin memastikan bahwa pernikahan bukan keputusan yang diambil secara terburu-buru, melainkan hasil dari pertimbangan yang matang.
Dalam konteks ini, ketakutan terhadap komitmen tidak berarti Gen Z menolak pernikahan. Sebaliknya, mereka ingin membangun hubungan yang sehat, setara, dan berkelanjutan. Fenomena ini menunjukkan bahwa bagi Gen Z, pernikahan adalah keputusan penting yang memerlukan pertimbangan mendalam dan kesiapan yang serius.
Pada akhirnya, fenomena "Married is Scary" mencerminkan pergeseran cara pandang generasi muda terhadap institusi pernikahan. Jika generasi sebelumnya lebih menekankan pada faktor usia dan tuntutan sosial, maka Gen Z lebih menitikberatkan pada kualitas hubungan dan kesiapan individu.
Karena itu, tantangan yang dihadapi saat ini bukanlah mendorong generasi muda untuk segera menikah, melainkan menciptakan lingkungan sosial, ekonomi, dan pendidikan yang mampu membantu mereka memahami pernikahan secara realistis dan sehat.
Pernikahan tetap menjadi pilihan hidup yang bernilai bagi banyak orang. Namun bagi Gen Z, keputusan tersebut tidak lagi dipandang sebagai kewajiban yang harus segera dipenuhi, melainkan sebagai proses yang perlu dipersiapkan dengan matang agar dapat menciptakan hubungan yang sehat, setara, dan berkelanjutan.
Imam Arif Rahman
Mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


