Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 10 Agustus 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Allah SWT berfirman:
"Ud'u ilaa sabiili rabbika bil hikmati wal mau'izhati al-hasanah wa jaadilhum billatii hiya ahsan."
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik."
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat ini menjadi pedoman utama dalam dakwah Islam. Dakwah bukan sekadar menyampaikan mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga bagaimana kebenaran itu dapat diterima dengan hati yang lapang.
Jika kita melihat sejarah penyebaran Islam di Nusantara, keberhasilan para Wali Songo bukan karena mereka memaksa masyarakat meninggalkan seluruh tradisi yang telah mengakar. Mereka memahami bahwa budaya adalah bagian dari kehidupan masyarakat. Karena itu, mereka melakukan pendekatan yang bijaksana.
Tradisi yang bertentangan dengan akidah memang diluruskan, tetapi dilakukan secara bertahap, penuh kesabaran, dan tanpa menimbulkan permusuhan. Adat yang baik dipertahankan, sementara nilai-nilai Islam disisipkan ke dalam berbagai bentuk budaya, seperti seni, wayang, gamelan, syair, hingga tradisi kemasyarakatan. Dengan cara itulah Islam diterima dengan sukarela, bukan karena paksaan.
Para wali memahami bahwa mengubah hati manusia tidak bisa dilakukan dengan kemarahan. Hati lebih mudah terbuka oleh keteladanan daripada cercaan.
Sayangnya, pada sebagian fenomena dakwah masa kini, kita sering menjumpai kebiasaan yang berbeda. Kesalahan kecil langsung menjadi bahan hujatan. Perbedaan pendapat segera melahirkan vonis. Bahkan orang yang sedang berusaha mendekati masyarakat dengan pendekatan yang lembut terkadang ikut disalahkan.
Padahal, tidak setiap kesalahan harus disikapi dengan kemarahan. Tidak semua penyimpangan dapat diperbaiki dengan suara yang keras. Ada saatnya manusia membutuhkan nasihat yang lembut, teladan yang baik, dan kesabaran yang panjang.
Rasulullah ï·º sendiri dikenal sebagai pribadi yang penuh kasih sayang. Beliau tidak tergesa-gesa menghukum, tetapi lebih dahulu mengajak manusia memahami kebenaran. Banyak orang akhirnya masuk Islam bukan karena kalah berdebat, melainkan karena melihat akhlak Rasulullah ï·º yang mulia.
Islam memang mengajarkan amar ma'ruf nahi munkar. Namun pelaksanaannya harus tetap memperhatikan hikmah, kondisi masyarakat, serta dampak yang akan ditimbulkan. Tujuan dakwah bukan memenangkan perdebatan, melainkan menyelamatkan manusia agar semakin dekat kepada Allah SWT.
Karena itu, para dai, tokoh agama, maupun setiap muslim hendaknya menjadikan metode para wali sebagai inspirasi: tegas dalam prinsip, tetapi lembut dalam penyampaian. Berani meluruskan, tetapi tetap menjaga kehormatan orang lain. Mengajak, bukan mengejek. Memahami, bukan menghakimi. Merangkul, bukan memukul.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu berdakwah dengan hikmah, sebagaimana diajarkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah ï·º, sehingga dakwah menjadi jalan hadirnya rahmat, bukan sumber perpecahan.
Wallahu a'lam bish-shawab.


