Jakarta, infoDKJ.com | Minggu, 28 Juni 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Iman yang kokoh tidak lahir dalam semalam. Ia tidak tumbuh hanya dari teori, ceramah, atau kata-kata indah. Iman dibentuk oleh perjalanan panjang, oleh air mata, oleh kegagalan, dan oleh ujian yang kadang datang ketika manusia sedang berada di puncak kebahagiaan.
Salah satu pelajaran berharga dapat kita renungkan dari perjalanan pesepak bola Muslim Kanada, Ismaël Koné.
Dalam sebuah pertandingan ketika tim nasional Kanada unggul telak 6-0 atas Qatar, sebuah peristiwa yang tidak diinginkan terjadi. Di tengah kegembiraan kemenangan, Ismaël Koné harus meninggalkan lapangan dengan ditandu akibat cedera patah tulang pada kaki kirinya.
Bagi sebagian orang, kejadian seperti itu mungkin menjadi alasan untuk marah, kecewa, atau bahkan mempertanyakan keadilan Tuhan. Namun, seorang mukmin belajar memandang segala sesuatu dengan mata iman.
Kaki kirinya mungkin patah, tetapi imannya tidak roboh.
Ia berdiri di atas keyakinan yang jauh lebih kuat daripada dua kakinya; keyakinan bahwa di balik setiap takdir terdapat kasih sayang Allah. Bahwa tidak ada satu pun musibah yang terjadi secara sia-sia. Bahwa di balik rasa sakit yang dirasakan, ada tangan kasih Sang Rabb yang sedang menuntun hamba-Nya menuju sesuatu yang lebih baik.
Allah SWT berfirman:
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengajarkan bahwa pandangan manusia sangat terbatas. Kita hanya melihat hari ini, sedangkan Allah mengetahui masa depan yang tidak mampu kita jangkau.
Ujian Bukan Tanda Kebencian Allah
Banyak orang mengira bahwa musibah adalah tanda murka Allah. Padahal, tidak selalu demikian. Justru para nabi dan orang-orang saleh adalah mereka yang paling berat ujiannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Manusia yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang semisal dengan mereka, kemudian yang semisal dengan mereka."
(HR. Tirmidzi)
Karena itu, seorang mukmin tidak hanya berkata, "Mengapa ini terjadi padaku?", tetapi juga bertanya, "Apa hikmah yang Allah ingin aku pelajari dari semua ini?"
Mungkin Allah sedang membersihkan dosa-dosanya.
Mungkin Allah sedang meninggikan derajatnya.
Mungkin Allah sedang mengajarinya sabar.
Atau mungkin Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang mampu ia bayangkan.
Mengembalikan Segala Sesuatu pada Tempatnya
Di titik terendah kehidupan, manusia sering kali menyadari bahwa tidak ada tempat kembali selain kepada Allah.
Ketika kekuatan fisik berkurang, ketika rencana manusia berubah, ketika harapan tampak tertunda, di situlah iman menemukan maknanya yang paling dalam: menerima dan meyakini bahwa semua takdir Allah adalah baik, meskipun tidak selalu mudah dipahami.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya. Jika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."
(HR. Muslim)
Hari ini dunia mungkin menyaksikan cedera yang dialami Ismaël Koné. Namun bagi orang-orang yang beriman, ada pelajaran yang lebih besar daripada sekadar sebuah pertandingan sepak bola.
Dunia menyaksikan perjalanan iman seorang hamba.
Di titik terendahnya, ia mengembalikan segala sesuatu pada tempatnya.
Ia memilih percaya kepada takdir baik Rabb-nya.
Karena seorang mukmin sejati memahami bahwa kemenangan terbesar bukanlah ketika mampu berdiri tegak di atas lapangan, melainkan ketika hati tetap teguh berdiri di hadapan Allah.
Kaki bisa patah.
Mimpi bisa tertunda.
Rencana bisa berubah.
Tetapi selama iman tetap hidup, seorang hamba tidak pernah benar-benar jatuh.
Sebab orang yang bersandar kepada Allah tidak kehilangan arah, bahkan ketika seluruh dunia tampak berubah.
Penutup
Sesungguhnya ujian bukanlah tanda bahwa Allah meninggalkan hamba-Nya. Bisa jadi justru itulah tanda bahwa Allah sedang mendidik, membersihkan, dan mendekatkan hamba tersebut kepada-Nya.
Maka ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan kita, jangan terburu-buru berburuk sangka kepada Allah.
Barangkali, di balik rasa sakit yang sedang kita rasakan, Allah sedang menulis kisah yang lebih indah daripada yang mampu kita rencanakan sendiri.
"Kaki boleh patah, tetapi jangan biarkan iman ikut roboh."


