Jakarta, infoDKJ.com | Selasa, 23 Juni 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Dalam kehidupan bermasyarakat, sering kali kita menjumpai cara menyampaikan nasihat yang keras, penuh celaan, bahkan membuat orang merasa takut dan menjauh. Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengajarkan bahwa dakwah dan interaksi dengan sesama hendaknya dilakukan dengan cara yang membawa harapan, kemudahan, dan ketenangan.
Ketika mengutus sahabat Abu Musa Al-Asy'ari dan Mu'adz bin Jabal ke Yaman, Rasulullah ﷺ berpesan:
بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا، وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا
Bassyirû wa lâ tunaffirû, wa yassirû wa lâ tu'assirû.
“Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari. Permudahlah dan jangan mempersulit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pesan singkat ini mengandung hikmah yang sangat besar. Rasulullah ﷺ menginginkan agar umatnya menjadi pembawa rahmat, bukan sumber ketakutan. Menjadi penyambung kasih sayang Allah, bukan penyebab orang menjauh dari agama.
Allah SWT juga berfirman:
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”
(QS. Al-Baqarah: 185)
Dan firman-Nya:
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)
Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang dibangun di atas kasih sayang, kebijaksanaan, dan kemudahan. Karena itu, menyampaikan kebenaran tidak identik dengan kemarahan atau sikap menghakimi. Sebaliknya, nasihat yang lembut sering kali lebih mampu mengetuk hati dibandingkan kata-kata yang kasar.
Dalam kehidupan sosial, prinsip ini sangat relevan. Orang tua hendaknya mendidik anak dengan kasih sayang, bukan dengan ancaman yang berlebihan. Guru mengajar murid dengan kesabaran, bukan dengan celaan. Pemimpin melayani masyarakat dengan memudahkan urusan, bukan mempersulit. Begitu pula para da'i dan tokoh masyarakat, hendaknya menjadi penyejuk yang menghadirkan optimisme dan semangat untuk kembali kepada Allah.
Banyak orang yang sesungguhnya ingin berubah menjadi lebih baik, tetapi terkadang mereka terhalang oleh rasa takut, rasa malu, atau pengalaman mendapatkan perlakuan yang keras. Padahal, seseorang yang sedang belajar mendekat kepada Allah lebih membutuhkan uluran tangan dan kata-kata yang menumbuhkan harapan daripada vonis dan penghakiman.
Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan terbaik dalam kelembutan. Beliau tidak pernah mempersulit manusia, bahkan selalu mencari jalan yang paling mudah selama tidak bertentangan dengan syariat. Beliau memahami bahwa hati manusia tidak dapat ditaklukkan dengan kekerasan, melainkan dengan kasih sayang dan kebijaksanaan.
Karena itu, marilah kita menjadi pribadi yang menghadirkan kesejukan bagi sesama. Jadilah orang yang membuat orang lain semakin mencintai agamanya, bukan menjauhinya. Jadilah pembawa kabar gembira, bukan penyebar ketakutan. Sebab, bisa jadi satu ucapan yang lembut menjadi sebab seseorang kembali mendekat kepada Allah, sementara satu kata yang kasar justru membuatnya semakin menjauh.
Sesungguhnya, dakwah yang paling indah bukanlah yang paling keras suaranya, melainkan yang paling mampu menghadirkan rahmat dan harapan bagi manusia.


