Jakarta, infoDKJ.com | Kamis, 13 Agustus 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Sebuah kisah tentang lelah, ikhtiar, dan kasih sayang Allah
Kota metropolitan tidak pernah benar-benar tidur.
Gedung-gedung tinggi berdiri megah, kendaraan terus berlalu-lalang, dan teknologi membuat manusia semakin mudah memenuhi kebutuhan. Berbelanja cukup dengan satu sentuhan di layar; barang yang diinginkan segera diantar sampai ke depan pintu.
Namun di tengah segala kemudahan itu, masih ada manusia yang menjemput rezekinya dengan cara yang begitu sederhana.
Ia berjalan kaki dari kampung ke kampung.
Bukan dengan kendaraan, bukan pula dengan gerobak.
Dagangannya dipikul di atas pundak.
Suatu hari, seorang pemuda melihat seorang bapak tua berjalan di bawah terik matahari. Di pundaknya tergantung kasur lipat dan bantal yang ia jajakan.
Tubuhnya sudah renta. Langkahnya perlahan. Keringat membasahi wajahnya. Tetapi ia tetap berjalan.
Mungkin dalam hatinya hanya ada satu tekad:
“Aku harus pulang membawa rezeki.”
Entah untuk istrinya, anak-anaknya, atau kebutuhan keluarganya. Tidak ada yang tahu.
Sampai akhirnya ia berhenti di pinggir jalan. Dagangannya diturunkan perlahan. Ia duduk, mengusap keringat, lalu menarik napas panjang.
Dari kejauhan terlihat napasnya berat. Tenggorokannya kering. Ia bahkan hanya menelan ludah untuk menahan dahaga.
Pemandangan sederhana itu membuat pemuda tersebut meneteskan air mata.
Bukan karena bapak itu meminta belas kasihan.
Justru karena ia tidak meminta apa-apa.
Ia hanya sedang berjuang.
Dalam hati pemuda itu bertanya:
“Ya Allah, mengapa Engkau menghadirkan pemandangan ini kepadaku?”
“Pelajaran apa yang harus aku ambil?”
“Apa yang harus aku lakukan untuk diriku dan untuk bapak ini?”
Kemudian muncul pertanyaan lain:
“Apakah dagangannya laku?”
Kasur dan bantal yang dipikulnya masih banyak.
Sudah berapa jauh ia berjalan?
Berapa banyak orang yang hanya melihat tetapi tidak membeli?
Dan jika hari ini dagangannya tidak banyak terjual, apa yang akan dibawanya pulang?
Tidak ada yang tahu.
Tetapi satu hal jelas:
Ia tidak menyerah.
Ikhtiar yang Diam-Diam Mengajarkan Tawakal
Bapak tua itu mungkin tidak pernah berbicara tentang teori tawakal. Tetapi langkahnya telah mengajarkan maknanya.
Ia berusaha dengan seluruh tenaga, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Allah berfirman:
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)
Manusia diperintahkan untuk berikhtiar. Adapun hasil akhirnya adalah ketetapan Allah.
Karena itu, jangan pernah meremehkan pekerjaan seseorang hanya karena terlihat sederhana.
Bisa jadi pekerjaan yang kita pandang kecil justru menjadi jalan kemuliaan bagi seseorang di hadapan Allah.
Keringat yang tidak dipamerkan, lelah yang tidak dikeluhkan, dan perjuangan yang tidak diketahui siapa pun, semuanya berada dalam pengetahuan Allah.
Kadang Allah Mengajar Kita Melalui Pemandangan di Pinggir Jalan
Tidak semua guru berdiri di depan kelas.
Tidak semua nasihat datang dari mimbar.
Kadang Allah mengirimkan pelajaran melalui manusia yang kita jumpai hanya beberapa menit.
Seorang pedagang keliling.
Seorang tukang sapu.
Seorang pemulung.
Seorang ibu yang berjualan dari pagi hingga malam.
Mereka mungkin tidak memberikan ceramah, tetapi kehidupan mereka berbicara:
Jangan malu mencari rezeki yang halal.
Jangan menyerah hanya karena hidup tidak mudah.
Dan jangan merasa paling susah sebelum melihat perjuangan orang lain.
Pemuda itu kemudian memandang telepon genggam di tangannya.
Betapa mudah hidupnya.
Ia bisa membeli sesuatu hanya dengan beberapa sentuhan.
Sementara bapak tua itu harus berjalan di bawah matahari sambil memikul barang untuk mendapatkan pembeli.
Saat itulah ia merasa malu kepada dirinya sendiri.
Berapa banyak nikmat yang selama ini ia anggap biasa?
Kaki yang sehat.
Kendaraan.
Tempat berteduh.
Makanan.
Air minum.
Teknologi yang memudahkan kehidupan.
Namun semua itu masih sering membuatnya lupa bersyukur.
Jangan Berhenti pada Rasa Kasihan
Jika suatu hari kita bertemu orang seperti bapak tua itu dan membutuhkan barang dagangannya, belilah.
Jangan hanya mengatakan kasihan.
Jangan pula menawar terlalu rendah demi keuntungan beberapa ribu rupiah.
Sebab bagi kita mungkin kecil, tetapi bagi pedagang kecil bisa berarti lauk untuk keluarganya.
Jika tidak membutuhkan barangnya, mungkin berikan makanan atau minuman.
Jika tidak mampu membantu secara materi, setidaknya berikan senyum, salam, dan penghormatan.
Sebab terkadang seseorang tidak hanya membutuhkan bantuan.
Ia juga membutuhkan penghargaan bahwa dirinya masih dipandang sebagai manusia yang bermartabat.
Doa untuk Bapak Tua Itu
Kita tidak tahu siapa namanya.
Tidak tahu di mana rumahnya.
Tidak tahu berapa banyak orang yang menunggunya pulang.
Tidak tahu berapa banyak dagangan yang berhasil ia jual hari itu.
Tetapi Allah tahu.
Allah melihat setiap langkahnya.
Allah mengetahui keringatnya.
Allah mengetahui ketika pundaknya terasa sakit dan tenggorokannya kering.
Maka:
Ya Allah...
Jika hari ini dagangannya belum banyak terjual, pertemukanlah ia dengan pembeli yang baik.
Jika tubuhnya lelah, kuatkanlah.
Jika keluarganya sedang membutuhkan, cukupkanlah.
Bukakanlah pintu rezeki yang halal, luas, dan berkah.
Berikanlah kepadanya rezeki yang membuatnya tersenyum ketika pulang.
Rezeki yang menggembirakan dirinya dan keluarganya.
Dan jadikanlah setiap langkahnya dalam mencari nafkah sebagai amal yang Engkau ridai.
Mungkin Bukan Kita yang Menolongnya
Pemuda itu akhirnya menyadari sesuatu.
Ketika kita membantu orang kecil, kita sering merasa sedang menolong mereka.
Padahal bisa jadi merekalah yang sedang menolong kita.
Mereka menolong kita belajar bersyukur.
Mereka mengajarkan arti ikhtiar.
Mereka mengingatkan bahwa kemudahan yang kita miliki adalah nikmat Allah yang tidak boleh dianggap biasa.
Maka jika suatu hari kita melihat seorang bapak tua memikul dagangannya di bawah terik matahari, jangan buru-buru mengalihkan pandangan.
Berhentilah sejenak.
Lihatlah dengan hati.
Jika mampu, bantulah.
Jika membutuhkan, belilah.
Jika tidak mampu, doakanlah.
Sebab mungkin pemandangan yang hanya berlangsung beberapa menit itu sedang Allah hadirkan sebagai pesan untuk hati kita:
“Jangan sombong dengan kemudahan hidupmu. Jangan banyak mengeluh. Dan jangan pernah lupa bersyukur.”
Barangkali di atas pundak bapak tua itu bukan sekadar kasur dan bantal.
Ia sedang memikul amanah, harga diri, dan harapan keluarganya.
Dan di setiap langkahnya, semoga Allah sedang menuliskan satu kalimat:
“Aku melihat perjuanganmu, wahai hamba-Ku. Teruslah berjalan. Rezekimu ada dalam genggaman-Ku.”


