KAIDAH EMAS KEDUA
Dalil Utama
Salah satu persoalan yang paling sering menimbulkan kesalahpahaman dalam pembahasan qadha dan qadar adalah hubungan antara ilmu Allah yang azali dengan perbuatan manusia.
Pertanyaannya adalah:
“Jika Allah telah mengetahui segala sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi, apakah manusia masih memiliki pilihan?”
Pertanyaan ini harus dijawab dengan membedakan secara tegas antara:
العِلْمُ
Pengetahuan,
dan:
الإِكْرَاهُ
Pemaksaan.
Allah mengetahui sesuatu tidak berarti Allah memaksa manusia melakukan sesuatu.
Inilah salah satu prinsip mendasar dalam memahami qadar.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ﴾
“Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Ilmu Allah meliputi:
- apa yang telah terjadi;
- apa yang sedang terjadi;
- apa yang akan terjadi;
- seluruh keadaan manusia;
- seluruh amal manusia;
- serta seluruh pilihan yang dilakukan manusia.
Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari ilmu Allah سبحانه وتعالى.
Namun kesempurnaan ilmu Allah tidak berarti manusia menjadi makhluk yang kehilangan kehendaknya.
Allah Mengetahui Sebelum Manusia Melakukan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.”
(QS. Al-Ḥajj [22]: 70)
Ayat ini menetapkan dua perkara:
Pertama, Allah mengetahui segala sesuatu.
Kedua, apa yang diketahui Allah telah tercatat dalam Kitab.
Namun perlu diperhatikan bahwa:
Ilmu Allah tidak mengikuti kejadian.
Sebaliknya:
Kejadian berlangsung sesuai dengan ilmu Allah yang sempurna.
Allah tidak menunggu sesuatu terjadi untuk kemudian mengetahui apa yang terjadi.
Pengetahuan Allah mendahului seluruh peristiwa.
Allah mengetahui manusia sebelum manusia diciptakan.
Allah mengetahui pilihan manusia sebelum manusia melakukan pilihan tersebut.
Allah mengetahui seluruh perjalanan kehidupan manusia sebelum kehidupan itu terjadi.
Namun manusia tetap melakukan pilihannya dengan kehendak yang Allah berikan kepadanya.
Di sinilah perbedaan antara:
“Allah mengetahui apa yang akan dilakukan manusia”
dan:
“Allah memaksa manusia melakukan sesuatu.”
Keduanya bukan satu perkara.
Perumpamaan untuk Memudahkan Pemahaman
Seorang guru yang sangat mengenal muridnya mungkin mengetahui bahwa seorang murid yang tidak pernah belajar akan gagal dalam ujian.
Pengetahuan guru tersebut tidak menyebabkan murid itu gagal.
Guru hanya mengetahui keadaan murid berdasarkan tanda-tanda yang telah terlihat.
Demikian pula, seseorang yang melihat seorang anak terus berjalan menuju api dapat mengetahui bahwa anak tersebut akan terluka apabila ia tidak berhenti.
Pengetahuan seseorang terhadap akibat tidak menyebabkan akibat tersebut terjadi.
Namun tentu saja:
Ilmu Allah tidak dapat disamakan dengan ilmu manusia.
Perumpamaan tersebut hanya digunakan untuk mendekatkan pemahaman tentang satu prinsip:
Pengetahuan bukanlah pemaksaan.
Ilmu manusia terbatas dan diperoleh melalui pengalaman.
Sedangkan ilmu Allah سبحانه وتعالى:
قَدِيمٌ، أَزَلِيٌّ، كَامِلٌ، مُحِيطٌ
Azali, sempurna, dan meliputi segala sesuatu.
Karena itu, tidak boleh menyamakan hakikat ilmu Allah dengan ilmu manusia.
Akan tetapi, secara prinsip kita dapat memahami bahwa:
Mengetahui suatu peristiwa tidak sama dengan memaksa peristiwa tersebut terjadi.
Ilmu Allah dan Pilihan Manusia
Allah سبحانه وتعالى mengetahui apa yang akan dipilih oleh manusia.
Namun manusia tetap memilih.
Allah mengetahui siapa yang akan beriman.
Namun orang tersebut tetap beriman dengan kehendak dan pilihannya.
Allah mengetahui siapa yang akan melakukan kemaksiatan.
Namun orang tersebut melakukan kemaksiatan berdasarkan pilihannya sendiri.
Karena itu, Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا وَإِمَّا كَفُورًا﴾
“Sesungguhnya Kami telah menunjukkan kepadanya jalan, ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
(QS. Al-Insān [76]: 3)
Allah menunjukkan jalan.
Kemudian manusia berada di hadapan pilihan.
Ia dapat:
- menerima;
- mengikuti;
- atau berpaling.
Namun seluruh pilihan tersebut tetap berada dalam ilmu Allah.
Karena itu, ilmu Allah tidak menghapus kenyataan bahwa manusia melakukan pilihan.
Kesalahan Memahami Ilmu Allah
Kesalahan yang sering muncul adalah:
“Jika Allah sudah mengetahui apa yang akan saya lakukan, berarti saya tidak memiliki pilihan.”
Pemikiran ini muncul karena mencampuradukkan:
Ilmu
dengan:
Paksaan.
Padahal, Allah mengetahui pilihan manusia karena ilmu-Nya sempurna.
Bukan karena manusia dipaksa untuk memilih.
Manusia melakukan sesuatu karena:
- ia menghendaki;
- ia memilih;
- ia memutuskan;
- kemudian ia melakukan.
Allah telah mengetahui semuanya.
Tetapi ilmu Allah bukan penyebab yang memaksa manusia.
Allah Tidak Menzalimi Manusia
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ﴾
“Dan Tuhanmu tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.”
(QS. Fuṣṣilat [41]: 46)
Allah tidak menghukum manusia atas sesuatu yang tidak memiliki hubungan dengan kehendak dan amalnya.
Karena itu, Allah berfirman:
﴿وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا﴾
“Dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.”
Allah سبحانه وتعالى mengetahui seluruh amal manusia.
Kemudian manusia akan mempertanggungjawabkan apa yang benar-benar ia lakukan.
Allah berfirman:
﴿كُلُّ امْرِئٍ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ﴾
“Setiap orang tergadai dengan apa yang telah ia usahakan.”
(QS. Aṭ-Ṭūr [52]: 21)
Kata:
كَسَبَ
menunjukkan adanya usaha dan perbuatan yang dikaitkan kepada manusia.
Ilmu Allah Tidak Bergantung kepada Waktu
Salah satu sebab kesulitan manusia memahami qadar adalah karena manusia hidup di dalam waktu.
Bagi manusia terdapat:
- masa lalu;
- masa kini;
- masa depan.
Manusia tidak mengetahui masa depan.
Manusia menunggu sesuatu terjadi.
Kemudian manusia baru mengetahui hasilnya.
Tetapi Allah سبحانه وتعالى tidak memperoleh ilmu melalui proses.
Allah tidak menunggu sesuatu terjadi untuk kemudian mengetahui.
Ilmu Allah tidak bertambah karena adanya peristiwa.
Ilmu Allah tidak berkurang karena berlalunya waktu.
Allah mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang sempurna.
Oleh karena itu, apa yang bagi manusia disebut:
“masa depan”
telah diketahui oleh Allah سبحانه وتعالى.
Tetapi pengetahuan Allah terhadap masa depan tidak berarti manusia kehilangan kehendaknya ketika masa depan itu benar-benar terjadi.
Ketika seseorang memilih antara kebaikan dan keburukan, pilihan itu benar-benar terjadi melalui kehendak yang ada dalam dirinya.
Allah telah mengetahui pilihannya.
Namun orang tersebut tetap melakukan pilihan itu.
Hubungan Ilmu Allah dengan Tanggung Jawab
Dari kaidah ini lahirlah satu prinsip yang sangat penting:
Allah mengetahui seluruh perbuatan manusia, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas perbuatan yang ia pilih dan lakukan.
Allah mengetahui sebelum manusia melakukan.
Manusia melakukan ketika waktu perbuatan itu tiba.
Kemudian manusia mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya.
Karena itu, manusia tidak dapat menjadikan ilmu Allah sebagai alasan untuk membenarkan dosa.
Seseorang yang melakukan kemaksiatan tidak dapat berkata:
“Allah sudah mengetahui bahwa saya akan melakukan ini, maka saya tidak bersalah.”
Pengetahuan Allah bukan alasan untuk melakukan dosa.
Allah tetap:
- memerintahkan;
- melarang;
- memberikan petunjuk;
- mengutus para rasul;
- menurunkan kitab-kitab;
- memberikan akal;
- serta membuka jalan taubat.
Karena itu, hujjah Allah terhadap manusia tetap tegak.
Hubungan Kaidah Ini dengan Hidayah
Kaidah ini juga sangat penting untuk memahami hidayah.
Allah سبحانه وتعالى mengetahui siapa yang akan menerima petunjuk dan siapa yang akan berpaling.
Namun manusia tetap diperintahkan untuk:
- mencari kebenaran;
- mendengarkan wahyu;
- berdoa memohon hidayah;
- membersihkan hati;
- dan mengikuti jalan Allah.
Karena itu, manusia tidak boleh berkata:
“Jika Allah menghendaki saya mendapat hidayah, saya pasti mendapatkannya. Maka saya tidak perlu berusaha.”
Ucapan seperti ini bertentangan dengan perintah Al-Qur'an untuk:
- beriman;
- bertakwa;
- berdoa;
- bertaubat;
- dan beramal saleh.
Allah mengetahui siapa yang akan mendapat hidayah.
Namun manusia diperintahkan untuk berjalan menuju jalan hidayah.
Di sinilah hubungan antara:
إِرَادَةُ الْإِنْسَانِ
kehendak manusia,
dengan:
هِدَايَةُ اللَّهِ
petunjuk Allah.
Manusia berusaha menuju Allah.
Allah memberikan taufik dan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah dan keadilan-Nya.
Buah Keimanan kepada Kaidah Ini
Memahami kaidah ini melahirkan beberapa sikap penting.
1. Manusia Tidak Sombong terhadap Amal
Jika seseorang berhasil melakukan kebaikan, ia tidak merasa bahwa dirinya berdiri sendiri.
Ia mengetahui bahwa:
- kemampuan untuk beramal;
- kesempatan;
- kekuatan;
- dan taufik,
semuanya merupakan karunia Allah.
2. Manusia Tidak Menjadikan Takdir sebagai Alasan
Ketika melakukan kesalahan, seorang mukmin tidak bersembunyi di balik alasan:
“Ini sudah ditakdirkan.”
Ia segera bertaubat.
3. Manusia Bersungguh-sungguh Mencari Hidayah
Karena manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan baginya di masa depan, maka ia wajib terus:
- berdoa;
- belajar;
- membaca Al-Qur'an;
- membersihkan hati;
- dan memperbaiki amal.
4. Manusia Memiliki Harapan
Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu tidak seharusnya membuat manusia putus asa.
Justru seorang mukmin mengetahui bahwa:
Allah mengetahui kelemahannya.
Allah mengetahui kesulitannya.
Allah mengetahui perjuangannya.
Dan Allah mengetahui setiap usaha yang dilakukan untuk kembali kepada-Nya.
Bantahan terhadap Jabariyah
Pemahaman Jabariyah menjadikan ilmu dan kehendak Allah sebagai alasan untuk menafikan pilihan manusia.
Pemahaman tersebut tidak sesuai dengan banyaknya ayat Al-Qur'an yang:
- memerintahkan manusia;
- melarang manusia;
- memuji orang yang berbuat baik;
- mencela orang yang berbuat buruk;
- memberikan pahala;
- dan memberikan hukuman.
Jika manusia benar-benar tidak memiliki kehendak, maka perintah dan larangan kehilangan makna.
Namun Al-Qur'an menetapkan bahwa manusia:
يَكْسِبُ
berusaha dan memperoleh hasil dari amalnya.
Bantahan terhadap Qadariyah
Sebaliknya, pemahaman yang menjadikan manusia seolah-olah berada di luar ilmu Allah juga bertentangan dengan Al-Qur'an.
Allah سبحانه وتعالى mengetahui:
كُلَّ شَيْءٍ
segala sesuatu.
Tidak ada:
- pilihan;
- amal;
- atau peristiwa,
yang terjadi di luar ilmu Allah.
Karena itu, Ahlus Sunnah menetapkan:
Ilmu Allah yang sempurna.
Dan sekaligus menetapkan:
Kehendak serta tanggung jawab manusia.
Keduanya tidak bertentangan.
Kesimpulan Kaidah Kedua
Kaidah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
“Allah telah mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang azali dan sempurna.”
“Allah mengetahui pilihan dan perbuatan manusia sebelum manusia melakukannya.”
“Namun ilmu Allah bukan pemaksaan terhadap manusia.”
“Manusia tetap memiliki kehendak dan pilihan yang dengannya ia melakukan amal.”
“Karena itu, manusia tetap bertanggung jawab atas apa yang ia pilih dan lakukan.”
Dengan memahami kaidah ini, kita dapat membedakan antara:
الْعِلْمُ
pengetahuan Allah,
dan:
الْإِجْبَارُ
pemaksaan.
Allah mengetahui segala sesuatu.
Tetapi manusia tetap diuji melalui pilihan dan amalnya.
Dan Allah سبحانه وتعالى adalah:
الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ الْعَدْلُ
Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Adil.
Laporan: Adang


