Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 22 September 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Ada sebuah kalimat yang sekilas terdengar baik:
“Itu bukan bagianku.”
Kalimat ini memang bisa menunjukkan sikap tertib. Kita tidak ingin mengambil pekerjaan orang lain, mencampuri tugas yang bukan kewenangan kita, atau mengambil bagian yang seharusnya menjadi tanggung jawab orang lain.
Dalam kondisi tertentu, sikap seperti itu memang diperlukan. Organisasi membutuhkan pembagian tugas, tanggung jawab, dan koordinasi agar semuanya berjalan tertib.
Namun, ada keadaan ketika kalimat “itu bukan bagianku” justru perlu kita tinggalkan.
Terutama ketika kita melihat saudara kita dalam satu organisasi sedang kewalahan, kebingungan, atau membutuhkan bantuan.
Jangan sampai pembagian tugas membuat hati kita kehilangan kepedulian.
Jangan Kaku dalam Berorganisasi
Dalam sebuah kegiatan, mungkin kita bukan panitia. Nama kita tidak tercantum dalam susunan kepanitiaan. Tidak ada tugas khusus yang diberikan kepada kita.
Tetapi ketika melihat saudara kita sedang sibuk mengangkat perlengkapan, menata tempat, menerima tamu, mengurus konsumsi, atau menyelesaikan pekerjaan yang belum tertangani, apakah kemudian kita hanya berdiri dan berkata:
“Itu bukan bagian saya.”
Di sinilah kita perlu memahami bahwa berorganisasi bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi juga belajar membaca keadaan.
Ketika saudara kita terlihat kewalahan, jangan menunggu diminta.
Datangilah dan katakan:
“Ada yang bisa saya bantu?”
Atau, jika keadaan memungkinkan, langsung ambil bagian pekerjaan yang memang bisa kita kerjakan.
Tidak perlu menunggu jabatan, surat tugas, atau instruksi.
Sebab terkadang, khidmah yang paling bernilai justru lahir dari inisiatif yang tidak tertulis dalam pembagian tugas.
Khidmah Bukan Sekadar Menjalankan Bagian
Khidmah berarti pengabdian. Di dalamnya ada ketulusan untuk memberikan tenaga, pikiran, waktu, bahkan kenyamanan diri demi kemaslahatan bersama.
Karena itu, orang yang benar-benar memahami makna khidmah tidak hanya bertanya:
“Apa tugas saya?”
Tetapi juga bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan agar urusan bersama menjadi lebih ringan?”
Ada perbedaan yang halus tetapi penting.
Orang pertama hanya melihat batas tugasnya.
Orang kedua melihat kebutuhan saudaranya.
Bukan berarti kita harus mengambil alih semua pekerjaan. Bukan pula berarti pembagian tugas tidak penting. Justru koordinasi tetap harus dijaga agar tidak terjadi tumpang tindih.
Namun, ketika keadaan membutuhkan pertolongan, jangan menjadikan struktur organisasi sebagai alasan untuk tidak peduli.
Tugas boleh dibagi, tetapi kepedulian jangan dibatasi.
Jangan Menjadi Penonton
Yang lebih menyedihkan adalah ketika seseorang melihat saudaranya kesulitan, tetapi ia memilih menjadi penonton karena merasa tidak memiliki tanggung jawab.
Padahal bisa jadi pekerjaan yang sedang membuat saudaranya kewalahan itu hanya membutuhkan sedikit bantuan dari kita.
Satu orang mengangkat meja, kita bantu mengangkat sisi lainnya.
Satu orang sedang menata kursi, kita ikut membantu.
Seseorang sibuk menerima tamu, kita membantu mengarahkan.
Panitia kekurangan tenaga, kita hadir untuk meringankan.
Bantuan itu mungkin terlihat kecil.
Tetapi bagi orang yang sedang kesulitan, bantuan kecil bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti.
Inilah salah satu seni dalam berkhidmah: mampu melihat pekerjaan yang belum selesai, melihat saudara yang sedang membutuhkan bantuan, lalu bergerak tanpa harus menunggu diperintah.
Ukhuwah Harus Terlihat dalam Perbuatan
Organisasi yang membawa nama agama seharusnya tidak hanya ramai dengan kajian tentang ukhuwah, persaudaraan, dan kepedulian.
Nilai-nilai itu harus terlihat dalam perilaku.
Allah SWT berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.”
(QS. Al-Ma'idah: 2)
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Persaudaraan bukan hanya ucapan.
Ia harus hadir ketika saudara kita membutuhkan pertolongan.
Maka, ketika berada dalam sebuah organisasi, jangan terlalu sibuk menjaga kalimat “ini bukan bagian saya”, sampai lupa bahwa kita semua sebenarnya berada dalam satu rumah perjuangan.
Jika rumah itu sedang membutuhkan tenaga, bantulah.
Jika saudara sedang kesulitan, ringankan.
Jika ada pekerjaan yang belum selesai, jangan buru-buru mencari siapa yang bertanggung jawab. Terkadang lebih baik bertanya:
“Apa yang bisa saya bantu?”
Ada Saatnya Berada di Depan, Ada Saatnya Membantu dari Belakang
Dalam organisasi, tidak semua orang harus selalu menjadi pemimpin.
Ada yang mengatur.
Ada yang menjalankan.
Ada yang berbicara di depan.
Ada yang bekerja dalam diam.
Dan semuanya memiliki nilai ketika dilakukan dengan niat yang benar.
Jangan merasa pekerjaan tertentu terlalu kecil untuk dikerjakan hanya karena tidak sesuai jabatan kita.
Merapikan kursi, membawa perlengkapan, membersihkan tempat kegiatan, membantu konsumsi, menyambut tamu, atau sekadar menggantikan saudara yang kelelahan, semuanya bisa menjadi bagian dari khidmah.
Sebab yang dinilai Allah bukan semata-mata besar kecilnya pekerjaan, tetapi keikhlasan dan manfaat yang lahir darinya.
Bisa jadi kita tidak dikenal karena pekerjaan itu.
Tidak ada yang memuji.
Tidak ada yang menyebut nama kita.
Tetapi justru di situlah keikhlasan diuji.
Jangan Sampai Jabatan Membuat Jarak
Organisasi membutuhkan struktur, tetapi struktur jangan sampai melahirkan sekat.
Jangan karena seseorang bukan pengurus inti, ia merasa tidak perlu peduli.
Jangan karena seseorang bukan panitia, ia merasa tidak memiliki tanggung jawab moral.
Dan jangan pula karena seseorang memiliki jabatan, ia merasa pekerjaan-pekerjaan sederhana bukan lagi bagiannya.
Dalam khidmah, yang kita bangun bukan sekadar organisasi, tetapi rasa memiliki.
Ketika setiap orang merasa bahwa organisasi adalah rumah bersama, maka persoalan akan dihadapi bersama.
Tidak ada lagi:
“Itu tugas dia.”
Melainkan:
“Mari kita selesaikan bersama.”
Tidak ada lagi:
“Saya bukan panitia.”
Melainkan:
“Saya bagian dari keluarga ini. Apa yang bisa saya bantu?”
Itulah ukhuwah yang hidup.
Bukan sekadar slogan, tetapi menjadi kebiasaan dalam keseharian.
Penutup
Akhirnya, kita memang harus memahami batas tugas dan menghormati tanggung jawab orang lain. Tetapi jangan sampai ketertiban membuat kita kehilangan kepekaan.
Jangan mengambil hak orang lain, tetapi jangan pula membiarkan saudara kita berjuang sendirian.
Jangan merebut bagian orang lain, tetapi ketika saudara kita kewalahan, ambillah sebagian bebannya.
Bukan karena itu tugas kita.
Melainkan karena dia saudara kita.
Di situlah indahnya khidmah.
Kita belajar bahwa berorganisasi bukan hanya tentang siapa yang memiliki tugas, siapa yang memiliki jabatan, atau siapa yang berada di depan.
Lebih dari itu, organisasi adalah tempat kita belajar menjadi manusia yang peduli, ringan tangan, tidak egois, dan siap meringankan beban sesama.
Sebab ukhuwah bukan hanya tentang duduk bersama dalam satu majelis.
Ukhuwah adalah ketika kita melihat saudara kita kesulitan, lalu hati kita tergerak untuk berkata:
“Biar saya bantu.”
Dan mungkin, justru pekerjaan yang “bukan bagian kita” itulah yang suatu hari menjadi bagian dari amal kita di hadapan Allah SWT.


