Jakarta, infoDKJ.com | Rabu, 16 September 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Sore itu, suasana di belakang rumah Ujang terasa begitu teduh.
Di bawah pohon yang rindang, tiga orang sahabat—Andi, Ujang, dan Herman—duduk santai di sebuah sawung sederhana. Secangkir kopi dan makanan ringan menemani obrolan mereka yang mengalir tanpa arah.
Kadang membicarakan pekerjaan, keluarga, tetangga, kehidupan, dan berbagai persoalan kecil yang terjadi sehari-hari.
Sampai akhirnya Ujang mengangkat sebuah pengalaman yang menurutnya cukup mengganjal.
“Beberapa hari lalu motor saya saya bawa ke bengkel,” kata Ujang.
“Motor saya bermasalah. Saya bertanya kepada mekaniknya, sebenarnya apa kerusakannya dan bagaimana cara memperbaikinya. Dia memang memperbaiki motor saya, tetapi sambil berkata, ‘Ilmu mahal, Bang.’ Setelah itu tidak ada penjelasan apa-apa.”
Herman langsung menimpali.
“Wah, kurang bagus juga kalau begitu. Kalau pelanggan bertanya, seharusnya dijelaskan seperlunya. Tidak harus membocorkan semua ilmunya, tetapi setidaknya orang yang datang merasa dihargai.”
Ujang mengangguk.
“Saya juga merasa begitu. Saya bukan mau belajar menjadi mekanik. Saya cuma ingin tahu apa yang terjadi dengan motor saya.”
Andi yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya tersenyum.
“Bisa jadi kalian benar. Tetapi jangan terlalu lama membawa rasa kecewa itu.”
Ujang menatap Andi.
“Kenapa?”
“Karena mungkin ada sesuatu yang lebih penting untuk kita renungkan daripada sekadar menilai sikap mekanik itu.”
Ilmu Memang Mahal, Tetapi Bukan Milik Kita Sepenuhnya
Andi menyeruput kopinya perlahan.
“Memang benar, ilmu itu mahal. Seorang mekanik mendapatkan keahliannya bukan dalam satu atau dua hari. Ada waktu yang ia habiskan untuk belajar, ada pengalaman, ada kesalahan, ada biaya, ada guru, dan ada perjalanan panjang sampai akhirnya ia menguasai pekerjaannya.”
“Jadi, tidak salah kalau seseorang menghargai ilmu dan keahliannya.”
“Tetapi,” lanjut Andi, “ada satu hal yang jangan sampai kita lupakan.”
“Ilmu itu pada hakikatnya amanah dari Allah.”
Herman mulai memperhatikan dengan serius.
“Manusia memang belajar. Manusia membaca. Manusia berguru. Manusia berlatih. Tetapi siapa yang memberikan kemampuan untuk memahami? Siapa yang memberikan akal? Siapa yang memberikan kesehatan sehingga kita mampu belajar? Siapa yang mempertemukan kita dengan guru? Dan siapa yang membuka hati sehingga ilmu itu bisa masuk?”
Ujang terdiam.
“Allah.”
Andi mengangguk.
“Karena itu, jangan sampai setelah memperoleh ilmu, kita merasa bahwa ilmu tersebut sepenuhnya milik kita.”
Inilah penyakit hati yang terkadang tidak terasa.
Seseorang memperoleh ilmu, lalu muncul rasa bangga.
Memiliki keahlian, lalu merasa lebih tinggi.
Mampu menjawab pertanyaan, lalu memandang rendah orang yang bertanya.
Padahal semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang, seharusnya semakin besar kesadarannya bahwa dirinya masih sangat sedikit mengetahui.
Allah mengingatkan:
“Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada Yang Maha Mengetahui.”
(QS. Yusuf: 76)
Ayat ini seakan mengajarkan kepada kita agar tidak berhenti pada kebanggaan terhadap apa yang kita ketahui.
Di atas ilmu kita, masih ada ilmu Allah yang tidak terbatas.
Jangan Merasa Memiliki Apa yang Sebenarnya Dititipkan
Dalam perjalanan ruhani, persoalannya bukan hanya berapa banyak ilmu yang kita miliki.
Tetapi juga apa yang terjadi pada hati setelah kita memiliki ilmu itu.
Apakah ilmu membuat kita semakin rendah hati?
Ataukah justru semakin senang dipuji?
Apakah ilmu membuat kita ringan membantu?
Ataukah membuat kita semakin perhitungan?
Apakah ilmu membuat kita semakin dekat kepada Allah?
Ataukah justru membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain?
Di sinilah ilmu menjadi ujian.
Sebab ilmu bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa menjadi sebab tumbuhnya kesombongan jika hati tidak dijaga.
Karena itu, ketika Allah menitipkan ilmu kepada kita, salah satu bentuk syukurnya adalah mengalirkan manfaat dari ilmu tersebut kepada orang lain.
Tidak selalu harus gratis.
Tidak berarti seseorang tidak boleh mendapatkan penghasilan dari keahliannya.
Seorang guru boleh mendapatkan haknya. Dokter boleh mendapatkan imbalan atas profesinya. Mekanik boleh mendapatkan upah atas pekerjaannya. Konsultan boleh menghargai keahliannya.
Itu semua bagian dari ikhtiar dan profesionalitas.
Namun, ada ruang yang lebih luas daripada sekadar transaksi.
Ada saat ketika seseorang bertanya bukan karena ingin mengambil keuntungan dari kita, tetapi karena ia benar-benar membutuhkan penjelasan.
Di saat seperti itulah, jika kita mampu membantu, jangan terlalu berat untuk berbagi.
Sebab mungkin itulah salah satu cara Allah meminta kita mensyukuri ilmu yang telah Dia titipkan.
Amal Jariyah Tidak Selalu Berupa Harta
Kita sering membayangkan amal jariyah sebagai pembangunan masjid, sumur, wakaf tanah, atau sedekah dalam bentuk harta.
Semua itu benar.
Tetapi Rasulullah SAW juga menyebutkan ilmu yang bermanfaat sebagai salah satu amal yang terus mengalir setelah seseorang meninggal dunia.
Rasulullah SAW bersabda:
“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Bayangkan seorang guru mengajarkan satu ilmu kepada muridnya.
Murid itu kemudian mengajarkan kepada orang lain.
Orang lain itu menggunakannya untuk bekerja.
Dari pekerjaannya, ia menafkahi keluarganya.
Anak-anaknya kemudian tumbuh dan melakukan kebaikan.
Rantai manfaat itu bisa terus berjalan.
Orang pertama yang mengajarkan ilmu tersebut mungkin sudah tidak ada.
Tetapi manfaat ilmunya masih hidup.
Inilah yang membuat ilmu memiliki keistimewaan.
Jasad boleh berhenti, tetapi manfaat ilmu dapat terus berjalan.
Bahkan Ilmu Sederhana Pun Bisa Menjadi Jalan Kebaikan
Ilmu yang bermanfaat tidak harus selalu ilmu yang rumit.
Seorang ayah mengajarkan anaknya cara memperbaiki sesuatu.
Seorang ibu mengajarkan anaknya keterampilan memasak.
Seorang pedagang mengajarkan cara mengelola usaha kecil.
Seorang petani mengajarkan teknik bercocok tanam.
Seorang mekanik menjelaskan cara merawat kendaraan agar tidak cepat rusak.
Seorang guru mengajarkan membaca.
Seorang ustaz mengajarkan Al-Qur’an.
Seorang pekerja berpengalaman mengajarkan keterampilan kepada juniornya.
Semua bisa menjadi jalan kebaikan ketika ilmu tersebut digunakan untuk kemanfaatan.
Sebab Allah tidak hanya melihat seberapa besar ilmu yang kita miliki, tetapi juga bagaimana ilmu itu menjadi sebab hadirnya kemaslahatan.
Dari “Ilmu Saya” Menjadi “Ilmu yang Allah Titipkan”
Mungkin di sinilah letak perubahan cara pandang yang penting.
Jangan terlalu sering berkata dalam hati:
“Ini ilmu saya.”
Cobalah perlahan mengubahnya menjadi:
“Ini ilmu yang Allah titipkan kepada saya.”
Kalimatnya sederhana, tetapi dampaknya besar bagi hati.
Ketika merasa memiliki, kita mudah takut kehilangan.
Ketika merasa dititipi, kita akan berpikir bagaimana menjalankan amanah itu dengan baik.
Ketika merasa memiliki, kita mudah merasa paling pintar.
Ketika merasa dititipi, kita akan lebih mudah tawadhu.
Ketika merasa memiliki, kita mungkin bertanya, “Apa keuntungan saya?”
Ketika merasa dititipi, kita mulai bertanya:
“Siapa yang bisa mendapatkan manfaat dari apa yang Allah titipkan ini?”
Inilah pergeseran dari ego menuju pengabdian.
Dari merasa memiliki menuju menyadari bahwa diri ini hanyalah penerima amanah.
Biarlah Orang Lain Menjadi Pelajaran, Jangan Menjadi Cermin untuk Kita
Ujang akhirnya tersenyum.
“Berarti saya tidak perlu memperpanjang rasa kecewa kepada mekanik itu?”
Andi menjawab,
“Tidak perlu. Ambil pelajarannya saja.”
“Kalau dia pelit dengan ilmunya, jadikan itu cermin bagi kita agar tidak melakukan hal yang sama.”
“Kalau dia membuat kita kecewa, jangan balas dengan menjadi orang yang juga mengecewakan orang lain.”
“Biarkan pengalaman itu berhenti pada kita. Jangan diwariskan menjadi keburukan berikutnya.”
Herman mengangguk.
“Jadi, bukan soal siapa yang paling benar dalam cerita tadi?”
Andi tersenyum.
“Bukan. Yang penting adalah apa yang bisa kita bawa pulang dari cerita itu.”
Ketiganya kemudian terdiam.
Angin sore bergerak perlahan di antara daun-daun pohon.
Kopi yang semula panas kini mulai menghangat.
Tetapi pembicaraan sederhana itu telah meninggalkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada secangkir kopi.
Sebuah kesadaran:
Bahwa ilmu adalah amanah.
Dan amanah tidak hanya dipertanggungjawabkan karena kita memilikinya, tetapi juga karena kita tidak menggunakannya untuk kebaikan ketika sebenarnya kita mampu.
Maka, jika hari ini Allah memberi kita ilmu, keahlian, pengalaman, atau kemampuan yang bermanfaat, jangan buru-buru merasa hebat.
Ucapkan syukur.
Kemudian bagikan manfaatnya.
Tidak harus kepada semua orang.
Tidak harus setiap waktu.
Dan tidak harus tanpa menghargai profesi.
Tetapi ketika ada kesempatan untuk membantu seseorang dengan ilmu yang kita miliki, jangan biarkan ego berkata:
“Ilmu saya mahal.”
Barangkali yang lebih indah adalah berkata dalam hati:
“Ilmu ini memang mahal karena Allah memperbolehkanku menempuh perjalanan panjang untuk mendapatkannya. Tetapi ilmu ini bukan milikku sepenuhnya. Ia adalah titipan-Nya. Dan salah satu cara mensyukurinya adalah membuatnya bermanfaat.”
Sebab pada akhirnya, kita bukan hanya ditanya berapa banyak ilmu yang kita ketahui, tetapi juga apa yang telah kita lakukan dengan ilmu tersebut.
Dan ketika suatu hari kita telah meninggalkan dunia, mungkin nama kita akan dilupakan.
Wajah kita mungkin tidak lagi dikenang.
Suara kita mungkin tidak lagi terdengar.
Tetapi jika pernah ada seseorang yang hidupnya menjadi lebih baik karena ilmu yang kita ajarkan, maka boleh jadi itulah salah satu bentuk kebaikan yang terus mengetuk pintu rahmat Allah.
Ilmu yang ikhlas dibagikan tidak akan berkurang.
Ia justru tumbuh menjadi manfaat.
Dan manfaat yang terus mengalir itulah yang membuat ilmu dapat menjadi amal jariyah yang tetap hidup, bahkan ketika pemilik jasadnya telah kembali kepada Allah.


