Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 7 September 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah1
Di zaman semua orang bisa bicara, justru semakin penting tahu kapan harus bicara dan kapan harus berkata: “Saya belum tahu.”
Ada sesuatu yang mengkhawatirkan di zaman ketika mikrofon semakin mudah didapat, tetapi ilmu belum tentu semakin dalam.
Hari ini, siapa pun bisa membuat majelis. Siapa pun bisa mengumpulkan jamaah. Siapa pun bisa berdiri di depan kamera, membaca satu ayat, mengutip satu hadits, lalu memberikan penjelasan panjang seolah-olah dirinya telah menguasai seluruh persoalan agama.
Padahal agama bukan sekadar perkara berani berbicara.
Ada ilmu di dalamnya.
Ada adab di dalamnya.
Ada sanad di dalamnya.
Dan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah.
Karena itu, sebuah obrolan ringan antara tiga orang sahabat—A, B, dan C—menjadi menarik ketika si A tiba-tiba bertanya.
“Teman-teman, saya mau tanya. Bolehkah saya membuka majelis ta’lim dan mengajar di dalamnya?”
Si B menjawab spontan.
“Boleh saja. Itu kan perbuatan baik. Yang penting sudah punya ilmu.”
Jawaban itu tidak salah.
Tetapi si C kemudian menimpali,
“Jangan hanya bertanya apakah boleh. Yang lebih penting adalah: apakah kita sudah siap memikul amanahnya?”
Si A terdiam.
“Apa maksudnya?”
“Kalau mau membuka majelis ta’lim,” jawab si C, “jangan hanya siapkan tempat dan pengeras suara. Siapkan dua hal: ilmu dan adab.”
ILMU BUKAN HASIL SEKADAR BERSELANCAR DI INTERNET
Hari ini kita hidup di zaman yang luar biasa.
Satu ayat Al-Qur’an bisa ditemukan dalam hitungan detik.
Hadits bisa dicari melalui telepon genggam.
Kitab-kitab tersedia dalam bentuk digital.
Ceramah ulama dari berbagai penjuru dunia dapat ditonton kapan saja.
Tetapi ada satu kesalahan yang mulai sering terjadi:
Kemudahan memperoleh informasi disangka sebagai kedalaman ilmu.
Padahal keduanya berbeda.
Membaca banyak bukan berarti memahami semuanya.
Menghafal banyak hadits bukan berarti memahami ilmu hadits.
Menonton ratusan kajian bukan berarti telah menjadi ahli agama.
Dan mampu berbicara dengan lancar bukan berarti setiap perkataan yang keluar sudah memiliki dasar keilmuan yang kuat.
Lebih berbahaya lagi jika seseorang mengambil satu ayat, membaca terjemahannya, kemudian menafsirkan sendiri sesuai pemikirannya.
Mengambil satu hadits, lalu menyimpulkan hukum tanpa memahami penjelasan para ulama.
Di sinilah guru menjadi penting.
Belajar agama bukan sekadar mengumpulkan informasi, tetapi menerima ilmu melalui proses belajar yang benar.
Ada guru yang membimbing.
Ada kitab yang dipelajari.
Ada kaidah yang harus dipahami.
Ada konteks yang harus diperhatikan.
Dan ada tradisi keilmuan yang harus dihormati.
Sebab ilmu agama bukan barang yang ditemukan kemarin sore.
Ia diwariskan melalui perjalanan panjang para ulama.
SANAD BUKAN UNTUK GAGAH-GAGAHAN
Membicarakan sanad bukan berarti seseorang ingin terlihat hebat karena mempunyai nama guru yang panjang.
Justru sebaliknya.
Sanad mengajarkan kerendahan hati.
Ia mengingatkan kita bahwa ilmu yang kita miliki bukan milik kita sendiri.
Kita hanya menerima, menjaga, kemudian menyampaikan.
Ada guru di belakang kita.
Ada ulama di belakang guru kita.
Dan ada mata rantai keilmuan yang panjang sebelum sampai kepada generasi-generasi terdahulu.
Karena itu, orang yang memahami sanad semestinya tidak mudah berkata:
“Pendapat saya pasti paling benar.”
Ia justru lebih berhati-hati.
Ketika tahu, ia menjelaskan.
Ketika tidak tahu, ia berkata:
“Saya tidak tahu.”
Ketika ragu, ia bertanya.
Ketika menemukan persoalan yang berada di luar kapasitasnya, ia mengembalikannya kepada ahlinya.
Itulah adab ilmu.
ADA GURU, ADA IZIN, ADA AMANAH
Lalu si A bertanya lagi.
“Kalau begitu, bagaimana dengan izin guru?”
Si C menjawab,
“Ini juga bagian penting dari adab.”
Jika seseorang belajar kepada seorang guru lalu hendak membuka majelis dengan mengajarkan ilmu yang dipelajarinya, sudah semestinya ia menjaga hubungan baik dengan gurunya dan, sesuai tradisi serta keadaan, meminta izin atau restu.
Bukan karena guru ingin menguasai muridnya.
Bukan pula karena murid tidak boleh berkembang.
Tetapi karena ada adab dan amanah yang perlu dijaga.
Terlebih apabila guru tersebut masih hidup dan selama ini menjadi tempatnya menimba ilmu.
Jangan sampai seseorang baru belajar beberapa waktu, kemudian tiba-tiba membuka majelis sendiri, lalu merasa sudah sejajar dengan gurunya.
Ini bukan persoalan siapa yang lebih tinggi. Ini persoalan tahu diri dalam perjalanan ilmu.
Dalam dunia tasawuf, adab kepada guru bukan sekadar sopan santun lahiriah.
Ia adalah latihan untuk mematikan ego.
Sebab penyakit terbesar seorang penuntut ilmu terkadang bukan kebodohan, melainkan merasa sudah tahu.
ILMU TANPA ADAB MELAHIRKAN KESOMBONGAN
Ada orang yang semakin banyak ilmunya justru semakin keras kepada orang lain.
Sedikit-sedikit menyalahkan.
Sedikit-sedikit membid’ahkan.
Sedikit-sedikit merasa paling benar.
Seolah-olah seluruh kebenaran telah berhenti di kepalanya.
Padahal ilmu yang benar semestinya membuat seseorang semakin takut kepada Allah.
Semakin berilmu, semakin tawadhu.
Semakin banyak membaca, semakin sadar betapa luasnya lautan ilmu.
Semakin mengenal ulama, semakin sadar betapa kecil dirinya.
Karena itu, kalau ilmu membuat kita semakin mudah merendahkan orang lain, mungkin ada yang perlu diperiksa bukan pada ilmu kita, tetapi pada hati kita.
ADAB TANPA ILMU JUGA TIDAK CUKUP
Namun jangan pula dibalik.
Ada orang yang sangat sopan, sangat santun, sangat rendah hati, tetapi ketika berbicara tentang agama tidak memiliki bekal ilmu yang memadai.
Niatnya mungkin baik.
Hatinya mungkin tulus.
Tetapi niat baik tidak otomatis membuat kesalahan menjadi benar.
Maka ilmu dan adab harus berjalan beriringan.
Ilmu membimbing langkah. Adab menjaga langkah.
Ilmu membuat kita tahu apa yang harus disampaikan.
Adab mengajarkan bagaimana menyampaikannya.
Ilmu membuat kita mampu membedakan yang benar dan yang keliru.
Adab membuat kita tidak sombong ketika mengetahui kebenaran.
JANGAN JADIKAN MAJELIS TA’LIM SEBAGAI PANGGUNG EGO
Majelis ta’lim bukan panggung untuk memperlihatkan siapa paling pintar.
Bukan arena untuk memenangkan perdebatan.
Bukan tempat mencari popularitas.
Bukan pula sarana membangun pengikut sebanyak-banyaknya.
Majelis ta’lim adalah tempat manusia belajar mendekat kepada Allah.
Maka sebelum seseorang sibuk memikirkan:
“Bagaimana agar majelis saya ramai?”
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
“Apakah ilmu yang saya sampaikan benar?”
Sebelum bertanya:
“Bagaimana agar jamaah semakin banyak?”
Tanyakan:
“Apakah akhlak saya sudah pantas menjadi contoh bagi mereka?”
Dan sebelum merasa bangga ketika banyak orang memanggil kita ustadz atau guru, tanyakan kepada diri sendiri:
“Kalau tidak ada satu pun manusia yang memuji saya, apakah saya masih mau mengajar karena Allah?”
Pertanyaan terakhir inilah yang sering kali paling sulit dijawab.
Sebab antara dakwah dan ego, terkadang batasnya sangat tipis.
JANGAN TAKUT MENGATAKAN “SAYA TIDAK TAHU”
Di zaman sekarang, mungkin kita perlu menghidupkan kembali satu kalimat yang sederhana tetapi sangat mulia:
“Saya tidak tahu.”
Tidak tahu bukan aib.
Yang menjadi aib adalah tidak tahu tetapi merasa tahu.
Tidak menguasai persoalan tetapi berani memberikan fatwa.
Belum belajar tetapi sudah mengajari orang lain.
Belum matang tetapi sudah merasa paling benar.
Seorang guru yang baik bukan orang yang selalu punya jawaban.
Tetapi orang yang tahu batas pengetahuannya.
Ia berani berkata:
“Untuk masalah ini saya harus bertanya kepada guru.”
“Untuk persoalan ini saya belum menguasainya.”
“Saya tidak ingin menjawab sebelum memastikan.”
Kalimat seperti itu justru menunjukkan kehormatan ilmu.
AKHIRNYA, SI A DAN SI B MEMAHAMI
Obrolan yang awalnya hanya canda dan tawa akhirnya berubah menjadi sebuah pelajaran.
Si A mengangguk.
Si B pun terdiam sambil mengangguk memahami.
Mereka akhirnya mengerti bahwa membuka majelis ta’lim bukan sekadar persoalan boleh atau tidak boleh.
Ada kesiapan yang harus diperiksa.
Apakah ilmunya cukup?
Apakah belajarnya jelas?
Apakah ada guru yang membimbing?
Apakah adabnya sudah terjaga?
Apakah ia memahami apa yang akan disampaikannya?
Dan yang paling penting:
Apakah semua itu dilakukan karena Allah atau karena ingin dikenal manusia?
Sebab ketika seseorang berdiri di depan jamaah, sesungguhnya ia sedang membawa amanah.
Satu kalimat yang salah dapat diserap oleh puluhan bahkan ratusan orang.
Satu pemahaman yang keliru dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena itu, jangan pernah menganggap ringan amanah mengajarkan agama.
Mikrofon boleh berada di tangan siapa saja. Tetapi amanah ilmu tidak boleh diberikan kepada sembarang hati.
Maka belajarlah.
Bergurulah.
Mintalah nasihat.
Jagalah adab.
Hormati sanad.
Dan ketika memang sudah mendapatkan amanah untuk mengajar, jangan merasa menjadi lebih tinggi daripada mereka yang duduk mendengarkan.
Sebab bisa jadi, orang yang duduk paling belakang dengan hati yang tulus justru lebih dekat kepada Allah daripada orang yang berdiri di depan dengan hati yang dipenuhi rasa bangga.
Pada akhirnya, dakwah bukan tentang seberapa keras suara kita terdengar, tetapi seberapa dalam pesan itu memperbaiki hati.
Bukan tentang seberapa banyak jamaah yang mengelilingi kita, tetapi seberapa banyak manusia yang setelah mendengar ilmu dari kita menjadi semakin dekat kepada Allah.
Dan bukan tentang seberapa terkenal nama kita setelah wafat, tetapi apakah ilmu yang kita tinggalkan menjadi jalan kebaikan yang terus mengalir.
Ilmu ada gurunya.
Dakwah ada adabnya.
Sanad ada amanahnya.
Dan semua akan kembali kepada Allah untuk dipertanggungjawabkan.
Maka sebelum berkata, “Saya ingin mengajar,” barangkali lebih baik kita bertanya lebih dahulu kepada hati:
“Apakah saya sudah cukup belajar?”
Karena dalam perjalanan menuju Allah, menjadi murid yang ikhlas jauh lebih selamat daripada menjadi guru yang sibuk mencari pengakuan.


