Jakarta, infoDKJ.com | Senin, 26 Oktober 2026
Penulis: Ahmad Hariyansyah
Ada luka yang tidak sembuh hanya karena waktu berlalu. Ada peristiwa yang tetap tinggal di sudut ingatan, meskipun kita sudah berkali-kali mengatakan kepada diri sendiri bahwa semuanya telah selesai.
Dalam perjalanan ruhani, manusia tidak selalu diminta untuk menghapus masa lalu. Yang diminta adalah mengubah cara hati memandang masa lalu.
Sebab terkadang, yang paling melelahkan bukan peristiwa yang telah terjadi, melainkan ego yang terus mengulangnya:
“Mengapa aku diperlakukan seperti itu? Mengapa dia tidak meminta maaf? Mengapa aku yang harus mengalah? Mengapa mereka tidak memahami lukaku?”
Di situlah perjalanan batin dimulai.
Memaafkan sebagai Pelepasan Ego
Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa apa yang terjadi tidak menyakitkan. Bukan pula berarti membenarkan kezaliman atau menghapus batas terhadap orang yang pernah menyakiti.
Memaafkan adalah ketika seseorang mulai berkata:
“Aku tidak ingin luka ini menjadi tuan atas hidupku.”
Dalam perspektif tasawuf, salah satu perjuangan terbesar manusia adalah melawan nafs—dorongan ego yang ingin diakui, dibenarkan, dimenangkan, bahkan dibalas.
Ego ingin orang lain mengakui bahwa kita benar.
Ego ingin orang yang menyakiti kita merasakan sakit yang sama.
Ego ingin permintaan maaf datang sesuai dengan yang kita harapkan.
Namun hati yang sedang belajar mengenal Allah perlahan memahami bahwa tidak semua keadilan harus kita tegakkan dengan tangan sendiri.
Ada perkara yang cukup kita serahkan kepada Al-'Adl, Yang Maha Adil.
Ada luka yang kita titipkan kepada Asy-Syafi, Yang Maha Menyembuhkan.
Ada kesalahan yang kita serahkan kepada Al-Ghafur, Yang Maha Pengampun.
Maka memaafkan bukan kehilangan harga diri. Justru terkadang ia merupakan bentuk kemenangan atas diri sendiri.
Allah berfirman:
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?”
(QS. An-Nur: 22)
Ayat ini mengajarkan sesuatu yang sangat dalam: ketika kita berharap memperoleh ampunan Allah, kita pun diajak belajar membuka pintu maaf bagi sesama.
Tidak Semua Luka Harus Dilupakan
Tasawuf tidak mengajarkan manusia untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Luka tetaplah luka.
Air mata tetaplah air mata.
Pengkhianatan tetaplah pengkhianatan.
Tetapi seorang salik belajar membedakan antara mengingat dan terikat.
Kita boleh mengingat tanpa terus menderita.
Kita boleh mengetahui bahwa seseorang pernah menyakiti kita tanpa terus menyimpan kebencian kepadanya.
Kita boleh mengambil pelajaran tanpa menjadikan masa lalu sebagai penjara.
Inilah proses tazkiyatun nafs: membersihkan jiwa bukan dengan menghapus seluruh pengalaman, melainkan dengan membersihkan hati dari racun yang ditinggalkan pengalaman tersebut.
Dahulu ketika mengingatnya, dada terasa sesak.
Kini ketika mengingatnya, kita hanya mampu berkata:
“Itu pernah terjadi. Aku telah melewatinya. Dan Allah telah membawaku sampai sejauh ini.”
Pada titik itu, kenangan masih ada, tetapi kuasanya atas hati telah berkurang.
Melepaskan Bukan Berarti Berhenti Peduli
Ada perbedaan antara melepaskan dan tidak peduli.
Melepaskan berarti berhenti memaksa sesuatu berjalan sesuai dengan kehendak kita.
Kita belajar menerima bahwa manusia mempunyai kehendak, tetapi Allah mempunyai ketetapan.
Kita merencanakan, Allah menentukan.
Kita berharap, Allah memilihkan.
Kita meminta, Allah mengetahui kapan sesuatu layak diberikan.
Di sinilah ridha perlahan tumbuh.
Ridha bukan berarti menyukai semua yang terjadi. Ridha adalah menerima bahwa apa yang telah Allah izinkan terjadi berada dalam ilmu dan hikmah-Nya, meskipun hikmah itu belum mampu kita pahami saat ini.
Ada kejadian yang dahulu kita anggap sebagai kehancuran, tetapi bertahun-tahun kemudian kita sadar bahwa dari sanalah Allah mengubah arah hidup kita.
Ada seseorang yang pergi dan membuat kita merasa kehilangan, tetapi ternyata kepergiannya menjadi jalan bagi kita untuk kembali menemukan Allah.
Ada pintu yang tertutup dengan begitu menyakitkan, tetapi setelah waktu berlalu kita menyadari bahwa mungkin Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui.
Maka seorang yang belajar berjalan menuju Allah tidak hanya bertanya:
“Mengapa ini terjadi kepadaku?”
Ia perlahan belajar bertanya:
“Apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku melalui semua ini?”
Diam sebagai Adab Hati
Diam pun memiliki maqam-nya sendiri.
Tidak setiap kebenaran harus dipaksakan untuk diterima orang lain.
Tidak setiap tuduhan harus dijawab.
Tidak setiap kesalahpahaman harus diluruskan.
Dan tidak setiap perdebatan layak dimenangkan.
Ada kalanya seseorang memilih diam bukan karena tidak mempunyai jawaban, tetapi karena ia sedang menjaga hatinya agar tidak dikuasai amarah.
Diam yang lahir dari kelemahan mungkin merupakan ketakutan.
Tetapi diam yang lahir dari kesadaran bisa menjadi adab.
Ia berkata:
“Aku bisa membalas, tetapi aku memilih tidak membalas.”
Bukan karena tidak mampu.
Bukan karena tidak terluka.
Melainkan karena ia tidak ingin satu kesalahan melahirkan kesalahan berikutnya.
Dalam perjalanan tasawuf, seseorang belajar bahwa kemenangan terbesar bukan selalu ketika orang lain akhirnya mengakui bahwa kita benar. Terkadang kemenangan terbesar adalah ketika hati kita tidak lagi membutuhkan pengakuan itu.
Dari “Aku” Menuju Allah
Barangkali inti dari semua ini adalah perjalanan dari “aku” menuju “Allah”.
“Aku disakiti.”
“Aku dikhianati.”
“Aku diperlakukan tidak adil.”
“Aku harus mendapatkan penjelasan.”
“Aku harus mendapatkan permintaan maaf.”
Semua itu sangat manusiawi.
Namun ketika hati mulai ditempa oleh perjalanan ruhani, kalimat-kalimat itu perlahan berubah:
“Ya Allah, Engkau mengetahui apa yang tidak diketahui manusia.”
“Ya Allah, Engkau mengetahui luka yang tidak mampu kujelaskan.”
“Ya Allah, aku serahkan hakku kepada-Mu.”
“Ya Allah, jangan biarkan rasa sakit ini mengubahku menjadi orang yang zalim.”
Di sinilah tawakkal menemukan maknanya.
Kita tidak lagi sibuk mengatur bagaimana orang lain harus bertindak agar hati kita tenang. Kita mulai belajar mengatur hubungan kita sendiri dengan Allah.
Sebab ketenangan yang paling dalam tidak selalu datang ketika keadaan berubah.
Terkadang ketenangan datang ketika hati kita berubah dalam memandang keadaan.
Memaafkan Diri Sendiri
Dan ada satu hal yang sering terlupakan: selain memaafkan orang lain, kita juga perlu belajar memaafkan diri sendiri.
Memaafkan diri karena pernah salah memilih.
Memaafkan diri karena pernah terlalu percaya.
Memaafkan diri karena pernah bertahan terlalu lama.
Memaafkan diri karena pernah gagal menjaga sesuatu yang kita cintai.
Namun jangan menjadikan kesalahan sebagai alasan untuk terus menghukum diri.
Jika Allah membuka pintu taubat, mengapa kita menutupnya dengan kebencian kepada diri sendiri?
Kesalahan boleh menjadi guru.
Tetapi jangan biarkan ia menjadi penjara.
Dalam tasawuf, perjalanan kepada Allah bukan perjalanan manusia yang telah sempurna. Ia adalah perjalanan manusia yang terus jatuh, bangun, menangis, bertaubat, memperbaiki diri, lalu kembali mengetuk pintu-Nya.
Pada Akhirnya, Kita Semua Akan Melepaskan
Pada akhirnya, tidak ada satu pun yang benar-benar kita miliki.
Harta akan ditinggalkan.
Kedudukan akan ditinggalkan.
Orang-orang yang kita cintai pun suatu hari akan pergi atau kita yang lebih dahulu pergi.
Bahkan tubuh yang selama ini kita jaga pun akan kembali kepada tanah.
Maka belajar melepaskan sejak sekarang adalah bagian dari belajar memahami hakikat kehidupan.
Kita datang tanpa membawa apa-apa.
Kita menjalani kehidupan dengan banyak merasa memiliki.
Lalu perlahan Allah mengajarkan bahwa semuanya hanya titipan.
Barangkali demikian pula dengan luka.
Ia datang sebagai ujian.
Ia tinggal sebagai pelajaran.
Dan pada waktunya, ia harus kita lepaskan.
Bukan karena apa yang terjadi tidak penting, tetapi karena Allah menghendaki hati kita melangkah lebih jauh daripada sekadar tinggal di dalam kenangan.
Maka jika hari ini masih ada sesuatu yang berat di dalam dada, tidak perlu memaksa diri untuk segera melupakan.
Bawalah perlahan kepada Allah.
Dalam sujud.
Dalam doa.
Dalam tahajud.
Dalam istighfar yang panjang.
Katakan:
“Ya Allah, aku tidak mampu menyembuhkan hatiku sendiri. Jika luka ini adalah bagian dari perjalanan yang Engkau tetapkan untukku, maka jadikan ia jalan yang mendekatkanku kepada-Mu, bukan jalan yang menjauhkan aku dari-Mu.”
Kemudian lepaskan sedikit demi sedikit.
Lepaskan kebutuhan untuk selalu dipahami.
Lepaskan keinginan untuk selalu menang.
Lepaskan dendam yang membuat hati berat.
Lepaskan masa lalu yang tidak mungkin diubah.
Dan serahkan apa yang tidak mampu kita selesaikan kepada Dia yang tidak pernah lalai terhadap satu pun urusan hamba-Nya.
Sebab barangkali, puncak dari memaafkan bukanlah ketika kita mampu berkata:
“Aku sudah tidak sakit lagi.”
Melainkan ketika kita mampu berkata:
“Aku pernah terluka, tetapi luka itu tidak lagi menghalangiku untuk mencintai Allah, mencintai kehidupan, dan melangkah menuju-Nya.”


