Jakarta, infoDKJ.com |Minggu, 15 Maret 2026
Oleh: Ahmad Hariyansyah
Menjelang Lebaran, satu istilah yang hampir selalu jadi topik hangat adalah THR (Tunjangan Hari Raya). Siapa yang tidak senang mendapat tambahan rezeki di hari raya? Tentu wajar jika banyak orang berharap ada dana ekstra untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Namun di balik itu, ada fenomena yang cukup unik sekaligus memprihatinkan. Tidak sedikit orang yang sebenarnya secara finansial tergolong mampu, tetapi tetap sibuk “berburu” THR dengan cara yang kurang elegan.
1. THR: Antara Hak, Bantuan, atau Ajang Meminta?
Secara bahasa, tunjangan berarti bantuan atau tambahan yang diberikan kepada seseorang. Idealnya, bantuan diberikan kepada mereka yang memang membutuhkan.
Sayangnya, menjelang hari raya sering muncul fenomena “panik Lebaran.” Seolah-olah jika tidak memiliki uang lebih, maka Lebaran terasa kurang sempurna.
Akibatnya, sebagian orang rela menurunkan harga diri dengan meminta sana-sini, bahkan mengemis secara halus maupun terang-terangan. Padahal, selama sebulan penuh di bulan Ramadan kita dilatih untuk menahan hawa nafsu.
Ironisnya, di akhir Ramadan justru ada yang kalah oleh nafsu materi.
Rasulullah ï·º telah mengingatkan:
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Memberi lebih mulia daripada meminta.
2. Ketika Orang Mampu Ikut “Berburu”
Terkadang kita menjumpai orang yang sebenarnya berkecukupan—rumahnya baik, kendaraannya ada—tetapi tetap sibuk “mengincar” bantuan yang seharusnya diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar membutuhkan.
Dalam Islam, meminta-minta padahal mampu adalah perbuatan yang tidak dianjurkan, bahkan memiliki konsekuensi berat.
Rasulullah ï·º bersabda:
“Seseorang yang senantiasa meminta-minta kepada orang lain, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan tidak ada sepotong daging pun di wajahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, hanya demi gengsi duniawi di hari raya, seseorang rela mengorbankan kehormatan dirinya di hadapan Allah.
3. Jangan Sampai Puasa “Boncos” di Garis Akhir
Hakikat Lebaran adalah kembali kepada fitrah, kembali kepada kesucian hati. Bukan kembali pada gaya hidup konsumtif atau berlomba-lomba mengumpulkan materi.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan janganlah engkau tujukan pandanganmu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami uji mereka dengannya…”
(QS. Thaha: 131)
Artinya, kita diajarkan untuk tidak silau terhadap apa yang dimiliki orang lain, apalagi sampai kehilangan rasa syukur.
Kesimpulan
Mendapat THR tentu merupakan rezeki yang patut disyukuri. Namun, memburunya hingga mengorbankan harga diri adalah hal yang patut direnungkan kembali.
Jangan sampai latihan sabar, syukur, dan pengendalian diri selama Ramadan justru hilang di penghujung bulan karena rasa panik yang tidak perlu.
Lebaran sejatinya adalah kemenangan hati, bukan tentang berapa banyak amplop yang berhasil dikumpulkan.
Mari menjaga marwah diri, karena ‘iffah (menjaga kehormatan diri) adalah bagian dari ketakwaan yang sejati.


