Ustadz Farid Okbah
Bagaimana Ramadhan Menghantarkan Suami dan Istri ke Surga?
Agar Ramadhan dapat menghantarkan suami dan istri menuju surga, maka pasangan harus memiliki kesadaran dan niat yang benar dalam pernikahan, yaitu menikah karena Allah dan membangun rumah tangga secara islami.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« تُنْكَحُ المَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَلِجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَا، فَاظْفَرْ بذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ »
“Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pelajaran dari Teori Al-Khawarizmi
Ada sebuah ilustrasi menarik yang dinisbatkan kepada Al-Khawarizmi, penemu angka nol, aljabar, dan algoritma.
Ia menggambarkan nilai kehidupan sebagai berikut:
- Harta nilainya 0, karena bisa habis
- Kecantikan nilainya 0, karena akan pudar
- Keturunan nilainya 0, karena hanya sampai di dunia
- Agama nilainya 1
Jika seorang lelaki mendapatkan semuanya tetapi agama di akhir, maka nilainya hanya 0001 = 1.
Namun jika agama menjadi yang pertama, maka nilainya 1000.
Artinya, agama adalah faktor utama yang memberi nilai pada semua hal lainnya.
Kisah di Masa Umar bin Khattab
Pada masa khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang ayah datang membawa anaknya kepada Umar.
Ia berkata:
“Wahai Amirul Mukminin, tolong nasihati anakku ini. Ia durhaka dan tidak taat kepada ayahnya.”
Umar memandang anak itu. Tiba-tiba anak tersebut bertanya:
“Wahai Amirul Mukminin, apa hak seorang anak terhadap ayahnya?”
Umar menjawab:
Ada tiga hak anak terhadap ayahnya:
- Memilihkan ibu yang shalihah
- Memberikan nama yang baik
- Mengajarkan Al-Qur’an
Anak itu kemudian berkata:
“Demi Allah wahai khalifah, tiga-tiganya tidak aku dapatkan dari ayahku ini.
Ibuku adalah seorang budak, ketika aku lahir aku diberi nama Ju’ul (kumbang yang memakan kotoran), dan sepanjang hidupku aku tidak pernah diajari Al-Qur’an.”
Mendengar hal itu, Umar langsung berkata kepada sang ayah:
“Jangan salahkan anakmu, karena engkau telah menanamkan kedurhakaan padanya.”
Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya keshalihan seorang ibu dalam mendidik anak-anaknya.
Ciri Lelaki yang Shalih
Keshalihan seorang lelaki biasanya mudah terlihat, misalnya:
- Menjaga shalat berjamaah, terutama Subuh dan Isya
- Bekerja di sektor yang halal
- Berbakti kepada orang tua
- Berada di lingkungan yang baik
- Memiliki ilmu agama
Bagaimana Mengetahui Wanita Shalihah?
Rasulullah ﷺ menjelaskan ciri-ciri istri shalihah dalam sabdanya:
« أَلَا أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يكْنِزُ الْمَرْءُ ؟ اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ ؛ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ »
“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik harta simpanan seorang lelaki? Yaitu istri shalihah: apabila dipandang menyenangkan, apabila diperintah ia taat, dan apabila suami tidak ada ia menjaga dirinya.”
(HR. Abu Dawud – shahih di atas syarat Muslim)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
« الدُّنْيَا مَتَاعٌ ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ »
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”
(HR. Muslim)
Kisah Syuraih Al-Qadhi dan Istrinya
Ulama tabi’in Imam Asy-Sya’bi pernah bertanya kepada kawannya Syuraih Al-Qadhi, seorang hakim yang terkenal adil pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
“Wahai Syuraih, engkau terkenal sebagai hakim yang adil. Bagaimana dengan rumah tanggamu?”
Syuraih menjawab:
“Aku telah menikah selama 20 tahun, dan tidak pernah sekali pun bertengkar dengan istriku.”
Asy-Sya’bi pun terkejut dan bertanya bagaimana hal itu bisa terjadi.
Syuraih menceritakan:
Setelah akad nikah, ia masuk ke kamar pengantin lalu shalat dua rakaat sebagai rasa syukur kepada Allah.
Setelah salam, ia melihat istrinya juga shalat di belakangnya.
Ketika ia ingin memegang ubun-ubun istrinya untuk berdoa sesuai sunnah, sang istri berkata:
“Sebentar.”
Kemudian istrinya berkata:
“Innal hamda lillah… amma ba’du…
Aku bersyukur kepada Allah telah diberi suami sepertimu. Tetapi aku tidak tahu kebiasaanmu, tabiatmu, dan hal-hal yang engkau sukai. Maka beritahukan kepadaku apa yang engkau sukai agar aku kerjakan, dan apa yang engkau benci agar aku tinggalkan.”*
Syuraih kemudian menjawab dengan menyebutkan hal-hal yang ia sukai dan tidak sukai.
Sejak saat itu, istrinya benar-benar mempraktikkan semua ucapannya, sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk bertengkar.
MasyaAllah, sebuah teladan rumah tangga yang indah.
Prinsip Rumah Tangga dalam Islam
Rumah tangga yang baik adalah yang mengikuti teladan Rasulullah ﷺ bersama Khadijah radhiyallahu ‘anha, yang hidup bersama selama sekitar 24 tahun dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
« خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لأَهْلِهِ ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لأَهْلِي »
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.”
(HR. Tirmidzi – shahih)
Sikap Istri terhadap Suami
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, sahabat Hushain bin Mihshan menceritakan bahwa bibinya pernah datang kepada Nabi ﷺ.
Setelah urusannya selesai, Nabi bertanya:
“Apakah kamu memiliki suami?”
Ia menjawab: “Ya.”
Beliau bertanya lagi:
“Bagaimana sikapmu terhadapnya?”
Ia menjawab:
“Aku tidak pernah mengabaikannya, kecuali jika aku memang tidak mampu.”
Nabi ﷺ bersabda:
« فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ »
“Perhatikanlah posisimu terhadap suamimu, karena sesungguhnya ia adalah penentu surga dan nerakamu.”
(HR. Ahmad – shahih)
Harapan Rumah Tangga dalam Islam
Allah mendorong agar rumah tangga berkembang hingga memiliki anak dan cucu.
Allah ﷻ berfirman:
وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُم مِّنْ أَزْوَاجِكُم بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ ۚ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَتِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ
“Allah menjadikan bagimu pasangan dari jenismu sendiri, dan dari pasangan itu Dia menjadikan bagimu anak-anak dan cucu-cucu serta memberimu rezeki dari yang baik.”
(QS. An-Nahl: 72)
Bahkan para malaikat mendoakan agar keluarga yang shalih dikumpulkan kembali di surga.
رَبَّنَا وَأَدْخِلْهُمْ جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدتَّهُمْ وَمَن صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ
“Ya Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, beserta orang-orang saleh dari nenek moyang mereka, pasangan mereka, dan keturunan mereka.”
(QS. Ghafir: 8)
Amin.


