JAKARTA, infoDKJ.com | Abu Bakar MBS, sapaan akrab Bang Abu, Tokoh Muda Betawi, menyampaikan apresiasi sekaligus lima catatan penting kepada Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri dan seluruh jajaran. Apresiasi tersebut disampaikan menyusul keberhasilan pengamanan Gerakan 12 Juni 2026 hingga aksi bersih-bersih sampah oleh aparat di sepanjang Jalan MH Thamrin–Sudirman hingga menjelang subuh.
"Terima kasih untuk Abang-abang Polisi Metro Jaya di bawah pimpinan Komjen Pol Asep Edi Suheri beserta seluruh jajaran. Gerakan 12 Juni jadi bukti nyata negara hadir di tengah masyarakat. Kehadiran kalian membuat kota ini aman, nyaman, dan tertata lebih baik," ujar Bang Abu kepada media, Minggu (14/6).
Klaim Narasi "Jaga Jakarta" Lahir Agustus 2025
Dalam kesempatan yang sama, Bang Abu juga meluruskan asal-usul narasi "Jaga Jakarta".
"Saya ingin meluruskan. Narasi 'Jaga Jakarta' itu awalnya saya gabungkan dan suarakan sejak Agustus 2025. Jauh sebelum narasi itu dipakai oleh pihak pemerintah. Dari awal niatnya sederhana: mengajak semua warga, dari pejabat sampai tukang ojek, sama-sama punya rasa memiliki untuk menjaga rumah kita bersama," tegas Bang Abu.
5 Catatan Bang Abu untuk Komjen Asep Edi Suheri
Bang Abu menilai keberhasilan 12 Juni harus menjadi pijakan, bukan garis akhir. Ia menitipkan lima catatan khusus kepada Komjen Pol. Asep Edi Suheri:
1. "Jaga Jakarta - Jaga Kota" Harus Menjadi Gerakan Akar Rumput
"Pemerintah melalui pendekatan humanisme Kepolisian Metro Jaya harus lebih masif menyentuh perasaan empati warga sampai ke tingkat RT/RW. Artinya membuat warga menjaga tetangga, menjaga kampung, sekaligus menjaga harga pangan. Kalau semua ikut menjaga, Jakarta pasti aman," kata Bang Abu.
2. Fokus Utama: Keamanan dan Harga Pokok
Menurut Bang Abu, ada dua pekerjaan rumah besar yang harus menjadi perhatian:
- Keamanan: maling, begal, dan tawuran harus diputus sampai ke akar-akarnya.
- Harga Pokok: harga sembako, minyak goreng, dan beras tidak boleh membuat warga menjerit.
"Jaga Jakarta itu artinya juga menjaga perut warga. Harus ada koordinasi yang baik antar-stakeholder pemerintah terkait," ujarnya.
3. Kunci Sukses: Kolaborasi Polisi dan Warga
"Polisi menjaga, warga waspada. Harus ada ronda, CCTV kampung jangan hanya merekam, dan perlu dibentuk grup WhatsApp siaga lintas sektor. Kalau kita kompak, begal pasti berpikir 13 kali sebelum masuk ke wilayah kita, bahkan ke gang-gang permukiman," tegasnya.
4. Target: Jakarta Nyaman 24 Jam
"Anak pulang mengaji jam 9 malam aman. Ibu-ibu ke pasar subuh tidak takut. Pengemudi ojek online yang mencari nafkah malam hari juga merasa aman. Itulah definisi Jakarta Aman versi saya," kata Bang Abu.
5. Mulai dari Diri Sendiri dan Lingkungan Terdekat
"Mulainya dari hal kecil: ikut ronda, menegur anak muda yang nongkrong hingga larut malam, dan melaporkan jika melihat hal-hal yang mencurigakan. Jaga Jakarta dimulai dari menjaga gang kita sendiri," pungkasnya.
Dorong Operasi Jam Malam
Bang Abu juga mendesak Kapolda Metro Jaya Komjen Pol. Asep Edi Suheri untuk mengintensifkan operasi wilayah pada jam malam sebagai implementasi nyata program "Jaga Jakarta – Jaga Kota".
"PR kita belum selesai. Malam masih menjadi ujian: begal di Jakarta Barat, tawuran antar-kampung di wilayah padat penduduk, serta berbagai titik rawan lainnya yang masih membuat warga resah. Saya siap menjadi mata dan telinga di akar rumput. Fokuskan operasi jam malam, karena itu bentuk paling mendasar dari Jaga Jakarta: menjaga agar warga bisa tidur dengan tenang," ujar Bang Abu.
Penutup
"Jaga Jakarta itu seperti menjaga rumah sendiri. Kalau pintunya kita kunci, lampunya kita nyalakan, dan tetangga kita sapa, insyaAllah maling akan berpikir 13 kali sebelum beraksi. Mari kite jaga Jakarta bareng-bareng, jaga kota kite."
(Yansen)


